Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Membaca dan Merekam Jejak Ekologi Budaya Desa Cambai Melalui Pelatihan Film Dokumenter

Kegiatan pelatihan intensif tersebut dilaksanakan di Desa Cambai selama dua hari dari tanggal 9-10 November 2020

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: khamelia
ist Nopri
Para peserta pelatihan sedang melakukan praktek lapangan yang merupakan bagian dari agenda Pelatihan dan Pembuatan Film Dokumenter Pemuda Desa Cambai 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Jika berbicara tentang masyarakat pedesaan, hampir seluruh aktivitas sehari-harinya tidak pernah lepas dari alam, hal ini telah berlangsung sejak lama, yang kemudian membentuk sebuah kebudayaan turun temurun.

Interaksi dan komunikasi masyarakat dengan alam ini juga terjadi di Desa Cambai, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani.

Cambai Creative Community menggelar Pelatihan dan Pembuatan Film Dokumenter yang bertemakan "Merekam Jejak Warisan Alam dan Budaya Desa Cambai".

Kegiatan pelatihan intensif tersebut dilaksanakan di Desa Cambai selama dua hari dari tanggal 9-10 November 2020, pesertanya adalah para generasi muda Desa Cambai, yang merupakan perwakilan dari delapan RT yang ada di Desa Cambai.

Baca juga: Wali Kota Pangkalpinang Sambut Massa Aksi Damai, Molen: Saya Bersyukur Didemo

"Bentuk-bentuk interaksi dan komunikasi manusia dan alam inilah yang kami coba rekam, dan akan menjadi sebuah film dokumenter. Film tersebut, juga dapat menjadi penandaan atau arsip bagi desa," kata Nopri Ismi, warga Desa Cambai, sekaligus ketua pelaksana kegiatan Pelatihan dan Pembuatan Film Dokumenter, dalam rilis kepada Bangkapos.com, Kamis (12/11/2020).

Di hari pertama kegiatan, para peserta fokus menerima materi terkait teori kepenulisan, foto, video, editing dan branding sebuah produk atau karya. Pemateri yang didatangkan di antaranya adalah Arief, creative director di Lakopade TV, Fadilla Septian Wahyudi, influencer Pulau Bangka, dan Nopri Ismi, jurnalis dari Mongabay Indonesia.

"Semua materi yang diberikan sangat bermanfaat bagi kami, maklum saja, selama di desa, kami hampir tidak pernah mempunyai pengalaman membuat sebuah film dokumenter dengan serius. Ini merupakan ilmu dan pengalaman berharga, yang sangat jarang kami terima," kata Seli Edo, satu diantara peserta pelatihan

Selain mendapat materi terkait teknis pembuatan film, para peserta juga memperoleh pemahaman terkait pentingnya menjaga alam dan budaya di Desa Cambai. Karena, sebelumnya juga telah dilaksanakan acara diskusi dengan para tokoh masyarakat, terkait potensi dan budaya yang mulai pudar, dan harus dilestarikan.

"Sebelum dilaksanakannya pelatihan ini, kami para generasi muda tidak terlalu tertarik dengan kebudayaan yang ada di desa kami sendiri. Ternyata, budaya dan alam sangat menarik untuk di ulik, dan dilestarikan, karena makna yang diberikan oleh alam dan budaya ternyata sangat luas, tidak hanya sebatas kesenian dan tari-tarian tradisional, yang cenderung membosankan," tambah Gatan, peserta pelatihan lainnya.

Dalam sejarahnya, kata Hasan Basri yang merupakan tokoh masyarakat, Desa Cambai juga mengalami perubahan bentang alam, yang ikut mempengaruhi perilaku dan interaksi masyarakatnya dengan alam. Awal berdirinya Desa Cambai, masyarakatnya berkebun lada di tengah hutan dalam komunitas kecil, seperti kebanyakan desa lainnya di Pulau Bangka.

"Namun, sejak masuknya pertambangan timah, sama halnya seperti desa lainnya di Pulau Bangka, masyarakat kami banyak yang beralih menjadi penambang timah, padahal mereka sebelumnya adalah seorang petani lada atau karet, sebuah profesi yang lebih ramah lingkungan," kata Hasan Basri.

Menurutnya, jati diri masyarakat Desa Cambai sebenarnya adalah seorang petani lada, bukannya penambang timah. Bertani lada telah menjadi sebuah kebudayaan, dan telah mempengaruhi perilaku sehari-hari masyarakat Desa Cambai.

"Bertani lada mengajarkan kami untuk bersifat sabar dan tekun, sebaliknya menambang timah telah memicu masyarakat kami untuk berbuat kriminal, tidak sabar, dan perilaku negatif lainnya. Bertani lada juga lebih ramah lingkungan, jika dibandingkan dengan timah, yang hanya menjanjikan kenikmatan sesaat serta meninggalkan kerusakan lingkungan yang sampai saat ini masih belum teratasi," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Cambai menyebutkan, dibalik kegiatan pelatihan ini, ada upaya untuk kembali mengingatkan masyarakat Desa Cambai, akan pentingnya menjaga lingkungan serta melestarikan kebudayaan turun temurun seperti menanam lada.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved