Breaking News:

Tongin Fangin Jitjong dan Sebuah Frasa yang Meredam Radikalisme

Sebuah kalimat yang ternyata menjadi bagian pondasi kuat untuk meredam permusuhan dan radikalisme di Bangka Belitung.

GOOGLE
Masjid Jami' dan Kelenteng Kong Fuk Miau di Muntok, letaknya berdampingan. 

Budaya saling kunjung-mengunjungi ini yang tetap beratahan hingga saat ini bukti bahwa warga disini hidup rukun, tidak mempermasalahan perbedaan.

Kebinekaan yang diwariskan para pendahulu antara warga Tionghoa dan Melayu, di Bangka yang dikatakan warga Tionghoa dengan sebutan, Tongin Fagin Jitjong, tadi.

Siapa Menggagasnya

Profesor Bustami Rahman, pakar sosiologi nasional, dari Bangka Belitung, mengatakan frasa ‘’Tongin Fangin Jitjong’’ baru populer setelah Bangka Belitung menjadi provinsi.

"Entah siapa pencetusnya atau penggagasnya, namun frasa ini populer setelah provinsi ini terbentuk," kata Prof  Bustami Rahman, Selasa (10/11/2020).

Frasa itu tujuan untuk menyemangati, agar kaum tionghoa dan melayu di Bangka Belitung bisa bersatu padu.

"Frasa ini untuk memyemangati, agar antara kaum tionghoa dan melayu bisa bersatupadu," imbuhnya.

Dirinya bercerita lebih jauh, bahwa frasa ini sekadar simbol dari kehidupan tionghoa dan melayu Bangka.

Frasa yang memang terbentuk dari sejarah masa lampau, yang berhubungan dengan kedudukan orang-orang tionghoa yang datang sebagai buruh timah.

"Ada perbedaan antara orang tionghoa yang di Jawa, dan Sumatera pada umumnya. Di Bangka, tionghoa dan melayu Bangka, berada di kelas yang sama, di masa penjajahan.  Karena berada di kelas yang sama, dua etnis ini cukup membaur, dan bertahan saat ini," kata mantan Rektor Universitas Bangka Belitung ini.

Halaman
1234
Penulis: Teddy Malaka (CC)
Editor: Teddy Malaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved