Breaking News:

Tongin Fangin Jitjong dan Sebuah Frasa yang Meredam Radikalisme

Sebuah kalimat yang ternyata menjadi bagian pondasi kuat untuk meredam permusuhan dan radikalisme di Bangka Belitung.

GOOGLE
Masjid Jami' dan Kelenteng Kong Fuk Miau di Muntok, letaknya berdampingan. 

Berangkat dari hal itu, harmonisasi terjadi. Banyak terjadi asimilasi dan hal itu tidak menjadi sesuatu yang aneh di Bangka Belitung.

"Banyak orang melayu menikah dengan orang tionghoa, asimilasi terjadi. Semua itu bukan hal aneh dan biasa terjadi," katanya.

Bambang Patijaya, anggota DPR RI dari Partai Golkar menyebut, ‘’Tongin Fangin Jitjong’’ merupakan implementasi dari Kebhinekaan di Bangka Belitung.

"Sebuah kalimat sederhana, percakapan yang sehari-hari namun itu sebuah bentuk implementasi kebhinekaan di Bangka Belitung. Sebuah kearifan lokal," kata Bambang.

Dirinya sangat mengapresiasi Hudarni Rani, mantan Gubernur Bangka Belitung periode 2002-2007 yang pada sejumlah kesempatan menggaungkan frasa ini di depan publik.

"Kalau bukan seorang gubernur yang di pelbagai kesempatan mengucapkan frasa ini, mungkin frasa itu tak sepopuler sepertgi ini," kata dia.

Apakah kemudian frasa ini menjadi pondasi untuk meredam radikalisme? Bambang Patijaya, tidak sependapat. "Karena sejatinya sudah menjadi kultur, bahwa orang Bangka ini menjaga tolerasi dan harmonis dalam kesehariannya," kata dia.

Bahkan menurut dia, warga tionghoa di Bangka Belitung kerap tak menunjukkan identitas ke-tionghoaan-nya dan lebih bangga pada status 'orang Bangka Belitung' nya.

Radikalime Tumbuh Karena Kapitalisme

Prof  Bustami Rahman, menyebut semangat dalam frasa itu sedikit banyak menguatkan. Namun frasa itu menjadi tidak berpengaruh besar lagi ketika kapitalisme mulai memberi pengaruh kuat.

Halaman
1234
Penulis: Teddy Malaka (CC)
Editor: Teddy Malaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved