Breaking News:

Berita WIKI

Apa Itu Porang ? Kok Bisa Bikin Untung, Lihat Pangsa Pasarnya

Banyak yang penasaran dan bertanya apa itu Porang dan bagaimana cara membudidayakannya

Editor: Fery Laskari
Andri M Dhani / Tribun Jabar
Petani menunjukkan umbi-umbian porang (Amorphophalus muelleri) yang dipanen di Blok Purut, Dusun Cikatomas, Desa Handapherang, Cijeungjing, Ciamis, Sabtu (30/5). Umbi Porang mendadak mahal karena jadi buruan untuk diekspor ke China dan Jepang. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Masih banyak yang penasaran dan bertanya-tanya, apa itu Porang? Bagaimana cara membudidayakannya?

Berikut ulasan pada laman Tribunnewswiki.com.  Pada laman ini disebutkan, tumbuhan liar bernama Porang berasal dari hutan di Sibolga, Tapanuli Tengah kini telah menjelma menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan asal Sumatera Utara (Sumut) yang laris di tiga negara, yakni Cina, Thailand dan Vietnam. Pada Semester I/2020, tercatat ekspor porang sebanyak tercatat 362 ton dengan nilai barang Rp7,2 miliar.

Jika dulu Porang banyak diabaikan sebagai tanaman liar di pekarangan rumah, kini porang (tanaman porang) malah banyak dibudidayakan petani di sejumlah daerah. Di pasar ekspor, umbi porang yang diolah jadi tepung ini banyak dicari.

Padahal umbi porang dulunya sering dianggap masyarakat sebagai makanan ular. Siapa sangka kini memiliki pasar ekspor besar seperti Jepang, China, Taiwan, dan Korea.

Porang adalah tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus muelleri. Di beberapa daerah di Jawa, tanaman ini dikenal dengan nama iles-iles. Porang biasanya dimanfaatkan melalui cara, diolah menjadi tepung yang dipakai untuk bahan baku industri untuk kosmetik, pengental, lem, mie ramen dan campuran makanan.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pertanian, jika dijadikan sebagai tanaman budidaya pertanian, keunggulan porang yakni bisa beradaptasi pada berbagai semua jenis tanah dan ketinggian antara 0 sampai 700 meter di atas permukaan laut.

Tanaman ini juga relatif bisa bertahan di tanah kering. Umbinya juga bisa didapatkan secara mudah. Sementara tanamanya hanya memperlukan perawatan yang minim. Kelebihan lainnya, porang bisa ditanam secara tumpang sari pada tanaman lain, karena bisa toleran pada naungan hingga 60 persen. Bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbi yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Soal harga Porang bervariatif, tergantung jenis hasil panen, umur panen dan faktor lain. Namun pada data yang dirilis Kementerian Pertanian, harga umbi porang segar mencapai Rp 4.000/kg. Lalu harga porang yang sudah diolah dan siap ekspor berkisar Rp 14.000/kg. Negara tujuan ekspornya antara lain Jepang, China, Australia, dan Vietnam. (Menteri Pertanian, Dr Syahrul Yasin Limpo sempat bilang di sebuah Chanel Youtube saat kunjungan di kebun petani di Sulawesi menyatakan, harga umbi sekitar Rp10 Ribu.

Sementara itu Badan Karantina Pertanian mencatat, pada Tahun 2018, ekspor tepung porang mencapai 254 ton dengan nilai Rp11,31 miliar. Sentra-sentra pengolahan umbi porang menjadi tepung saat ini tersebar di Bandung, Maros, Wonogiri, Madiun, dan Pasuruan.

Dilansir pada laman Antara, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan Kementan tengah fokus mengembangkan tanaman porang karena memiliki pasar ekspor yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved