Breaking News:

Kisah Sukses

Potret Buruh Sawit di Masa Pandemi Covid -19 "Senyum Mereka Masih Merekah"

Hujan mengguyur deras siang itu. Sesekali terdengar gemuruh datang dari langit gelap. "Gelegaarr...," suara guntur dari kejauhan membahana. Tapi tak..

bangkapos.com/ferylaskari
Karim (47), Buruh Harian Lepas Kebun Sawit di Bangka 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Hujan mengguyur deras siang itu. Sesekali terdengar gemuruh datang dari langit gelap. "Gelegaarr...," suara guntur dari kejauhan membahana. Tapi tak ada rasa gentar di hati mereka, si buruh pemetik tandan kelapa sawit. Tak ada niat mereka untuk berteduh, walau sebuah pondok reot berdiri tengah perkebunan ini.

Semangat para pekerja tampak kokoh. Mereka terus melangkah, melanjutkan tugas demi rupiah. Terlebih di zaman susah, saat Pandemi Covid -19 melanda berbagai daerah.

Mereka sungguh beruntung, karena di sektor perkebunan ini, nasib mereka seolah tak tergerus fenomena wabah yang sedang melanda. "Pokoknya hajar terus, cari duit," celetuk para pekerja, Senin (23/11/2020).

Sementara keringat mengucur deras, hingga baju pun kering di badan. Tak peduli kulit legam, yang penting asap dapur terus mengebul. Begitulah potret kawanan si pemetik buah (TBS) kelapa sawit di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Tak berapa lama hujan pun berhenti, berganti datangnya mentari yang hangat bersinar. Para pekerja tetap tak peduli, mereka terus beraktivitas seperti sedia kala. Berbekal alat petik berupa dodos dan eggrek, mereka tampak seperti serdadu perang.

Hingga terdengar suara keras . "Buukk..," setandan buah (TBS) kelapa sawit jatuh dari ketinggian, membentur permukaan tanah. Pria telanjang dada itu tersenyum puas. Tandan buah segar (TBS) bobot sekitar 30 kg, berhasil dipetik. 

Dalam hitungan detik, Pian alias Iyan (30), nama pria ini, melanjutkan langkah mendatangi pohon sawit berikutnya. Gerakan serupa ia lakukan. Alat petik berbentuk cerulit tajam bergagang panjang kembali ia kibaskan pada tangkai tandan buah yang melekat di sela pelepah pohon, dan terdengar lagi suara dentuman keras, jatuhnya tandan buah berikutnya.

Setelah ratusan pohon jadi sasaran, pria beranak satu itu mengusap keringat menggunakan baju yang ia belit di bahu. "Ngasoh luk suat (istirahat dulu sejenak -red)," kata pria asal Desa Sempan Kecamatan Pemali Bangka itu, usai menenggak minuman pelepas dahaga.

Sekilas terlihat nafasnya terengah-engah, namun raut bahagia terpancar jelas. Maklum masa panen raya kelapa sawit di sejumlah kebun petani lokal jadi penyebabnya.

Pian ikut merasa untung karena jerih payahnya sebagai pemetik buah, dibayar tergantung hasil panen, yaitu upah Rp150 perkg atau Rp150 Ribu perton TBS, hasil panen kebun petani. "Alhamdulilah, upah petik yang kami dapatkan lumayan sejak petani sawit panen raya," katanya seraya menebar senyum merekah.

Halaman
12
Penulis: Fery Laskari
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved