Breaking News:

Kisah Sukses

 Dua Kali Luncurkan Buku Dalam Kurun Waktu Lima Bulan, Ini Sosok Helena Octavianne

Berperawakan anggun nan cantik serta memiliki kewibawaan dan integritas yang tinggi, tak lantas membuat Helena Octavianne merasa jumawa akan apa yang

bangkapos.com/rizki irianda
Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bangka Barat, Helena Octavianne. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Berperawakan anggun nan cantik serta memiliki kewibawaan dan integritas yang tinggi, tak lantas membuat Helena Octavianne merasa jumawa akan apa yang telah dimilikinya.

Menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bangka Barat, Helena Octavianne tak ingin hidup hanya untuk mengejar karir dengan jabatannya kini.

Hal ini dapat dibuktikannya melalui hasil karya tulis yang ia salurkan melalui sebuah buku, bahkan tak tanggung-tanggung dalam kurun waktu lima bulan Kajari Kabupaten Bangka Barat ini sudah meluncurkan dua buah buku.

Tentunya tak sembarang buku yang ditulis oleh wanita kelahiran Jakarta, 22 Oktober 1975, hal ini terlihat dari buku pertama bertajuk Kawal Keuangan Negara Penanganan Covid-19 dan buku kedua yang berjudul Penuntutan dengan hati nurani.

"Setahun dua kali menulis buku jadi karena emang momennnya pas waktu ada Covid-19, lalu ada peraturan baru saya ingin semuanya tahu. Jadi saya berprinsip kalau manusia yang paling berguna, adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain," ujar Helena, Jum'at (27/11/2020).

Pada buku pertamanya ada niat tulus dari Helena terutama saat pandemi Covid-19, dimana Helena mengungkapkan tak ingin ada yang terjerumus akibat ketidaktahuan mengenai hukum terutama dalam mengatur keuangan negara.

"Kawal keuangan negara saya buat pada saat sudah berjalan dua bulan covid, ini buku berisi kumpulan modus operandi kasus terdahalu seperti blt (bantuan langsung tunai). Saya buat ini agar tidak terjadi lagi, dulu ada lurah yang terpelset karena modus operandi mereka membagikan semua rata dan itu gak boleh karena yang punya hak yang boleh menerima," jelasnya.

Bahkan untuk buku bertajuk kawal keuangan negara penanganan Covid-19, pun dibagikannya secara gratis kepada kepala desa guna terhindar dari berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hukum.

"Buku ini saya bagikan di kepada seluruh kepala desa di Bangka Barat, biar mereka tau kesalahannya dimana dan tidak terjadi lagi. Kalau sekarang masalah itu ada di data yang kurang baik, seperti yang sudah meninggal atau pindah tapi masih terdata dan di lapangan seperti itu," jelasnya.

Selain itu untuk buku keduanya, Helena mengatakan ingin masyarakat mengetahui tentang peraturan baru penerapan restorative justice sebagai pemahaman hukum bagi masyarakat.

"Jaksa juga harus menelaah dan meneliti, banyak perkara yang menyentuh orang kecil seperti nyolong buah atau yang lainnya. Dia ngambil dalam keadaan terdesak mungkin untuk pengobatan, unsurnya lengkap barang bukti lengkap tapi itu masih kita bisa restorative justice," ucapnya Helena.

Niat baik untuk memberikan manfaat akan kepastian hukum bagi masyarakat, tentunya Helena tak memikirkan rupiah yang didapat dari kedua buku tersebut.

"Kalau saya ingin ada momen, kalau buku biasa saja agak sulit karena jaman sekarang jaman digitalisasi jadi banyak orang yang baca itu dari pada buku. Makanya saya membuat buku digital dan saya bagikan secara gratis, karena saya memikirkan yang lebih penting itu manfaatnya," jelasnya.

Bahkan tak hanya menulis buku, ibu dua anak ini juga hobi menulis lagu. Hingga kini Helena Octavianne sudah menciptakan dua lagu yang berjudul, tak berdaya dan sinar sang rembulan.

Rencananya lagu yang sudah diciptakannya sejak 2011 lalu ini, bahkan pada Jum'at (04/12/2020) akan ada di platform musik untuk dapat dengan mudah didengar. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy).

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: Fery Laskari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved