Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Lidi Nipah Jadi Komoditi Alternatif Bangka Belitung, Elfiyena Akan Tingkatkan Managemen Ekspor

Lidi nipah kini menjadi komoditi alternatif dalam mendorong perekonomian Bangka Belitung.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
Lidi Nipah Jadi Komoditi Alternatif Bangka Belitung, Elfiyena Akan Tingkatkan Managemen Ekspor
Ist/Elfiyena
Ekspor lidi nipah ke Pakistan sebanyak 10,7 ton melalui Pelabuhan Pangkalbalam sekira pukul 09.00 WIB, Selasa (24/11/2020).

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Lidi nipah kini menjadi komoditi alternatif dalam mendorong perekonomian Bangka Belitung.

Pasalnya, sudah dua kali melakukan ekspor dengan tujuan Nepal sebanyak 12 ton, Juli 2020 lalu dan Pakistan sebanyak 10,7 ton, November 2020.

Saat ini, proses ekspor dengan skema satu pintu menggunakan nama eksportir Desa Kota Kapur, Mendobarat, Kabupaten Bangka.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bangka Belitung, Elfiyena berharap desa lainnya juga bisa menjadi pendukung agar produksi lidi nipah meningkat.

"Sekarang durasi ekspor masih lama, bisa saja kedepannya dalam satu bulan bisa dua kali kalau sudah didukung oleh desa-desa lainnya. Saya berharap pihak desa lain yang telah dimentoring atau dilatih oleh Desa Kapur untuk segera berproduksi," ajak Elfiyena, Selasa (2/12/2020).

Adapun desa yang telah diberikan mentoring secara sukarela meliputi Bangka Kota, Balunijuk dan Baturusa.

"Kita berharap kepala desa ini sudah bisa mengarahkan masyarakat setempat untuk mendorong upaya ini (produksi lidi nipah-red). Banggalah dengan komoditi baru ini sehingga ada komoditi alternatif lain yang potensial seperti ini," kata Elfiyena.

Pelepasan Ekspor Perdana Lidi Nipah 12 Ton ke Nepal dan Lada 45 Ton ke Jepang
Pelepasan Ekspor Perdana Lidi Nipah 12 Ton ke Nepal dan Lada 45 Ton ke Jepang (Humas Karantina Pertanian Pangkalpinang)

Terkait pembinaan petani nipah, Dinas Koperasi dan UKM tetap memonitor dari segi produksi dan mereka juga sudah mendapatkan perahu bantuan CSR PT Timah, untuk khusus mengambil lidi nipah.

"Saat ini bagaimana kita menyiapkan managemen untuk ekpor, sampai sekarang tidak ada kendala pembinaan yang penting itu SDM, nanti kita akan merangkul anak perguruan tinggi dalam membantu menagemen untuk ekpor," kata Elfiyena.

Lebih lanjut, ia menyebutkan pohon nipah ini sangat potensial sebab bisa tumbuh terus menerus bahkan secara alami.

Selain itu, lidi nipah yang diekspor pun memiliki standar tersendiri, dari segi kekeringan dan panjangnya.

Untuk harga per kilogram lidi nipah ini bisa saja naik atau bersaing, tergantung dengan ongkos kirim atau biaya transportasi.

"Sekarang kita mencari solusi agar transportasi menjadi murah ke luar negeri, kalau kapalnya murah, berarti kita punya nilai beli dengan masyarakat yang tinggi. Tetapi untuk pengrajin harga lidi nipah lebih tinggi lagi, sebab akan membuat jenis kerajinan seperti lampion, kursi kekinian dan cermin, tinggal para pengrajin dibina agar dapat menyalurkan seni," jelas Elfiyena.

( Bangkapos.com / Cici Nasya Nita )

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved