Breaking News:

Pilkada Bangka Selatan

Master Politik Lulusan Rusia Asal Toboali Beberkan Strategi Menangkan Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

Menghitung hari menuju Puncak Pilkada 2020, para pasangan calon terus memantapkan strategi demi memenangkan kontestasi demokrasi dan jabatan politik.

(Dokumen Pribadi/Sellita)
Alumni Master Politik, Ekonomi dan Filsafat National Research University - Higher School of Economics Moscow, Rusia, Sellita 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Menghitung hari menuju Puncak Pilkada 2020, para pasangan calon terus memantapkan strategi demi memenangkan kontestasi demokrasi dan jabatan politik.

Berdasarkan Peraturan KPU Nomor 5 tahun 2020, masa kampanye telah dimulai sejak 26 September 2020 sampai dengan 5 Desember 2020 mendatang.

Di tengah Pandemi Covid-19 saat ini, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan mengingat banyaknya dampak yang disebabkan oleh Covid-19.

Alumni Master Politik, Ekonomi dan Filsafat National Research University - Higher School of Economics Moscow, Rusia, Sellita yang juga merupakan putri daerah Toboali menyebutkan dalam hal strategi memenangkan Pilkada 2020 ada banyak strategi yang dapat dilakukan.

"Melalui strategi ini tentunya banyak timbul pertanyaan bahwa strategi politik apa yang paling efektif untuk diterapkan selama masa kampanye yang tersisa saat ini. Karena Covid-19, KPU Kabupaten mengimbau bagi setiap pasanga calon untuk melakukan kampanye baik dengan terbatas hingga secara dalam jaringan (daring)," ujar Sellita pada Rabu, (2/12/2020).

Selain itu setiap pasangan calon tentunya harus melakukan tindakan-tindakan demi menarik perhatian masyarakat dan mendapat suara dari pemilih.

"Salah satunya demi mendapatkan dukungan, tentunya pasangan calon dapat menjadikan momentum Pandemi Covid-19 saat ini sebagai jawaban bahkan di tengah sulitnya ekonomi masyarakat akibat Covid-19 strategi ilegal bisa saja menjadi lumbung keuntungan bagi paslon. Termasuk di dalamnya yakni melegalkan politik uang," katanya.

Asumsi pertama menurut Sellita, realitas krisis keuangan yang dialami saat ini maka potensi terjadinya politik uang dalam penyelenggaraan pilkada di masa pandemi ini sesungguhnya cukup besar.

Dari Kacamata Permintaan (demand), Sellita menyebutkan bantuan dalam bentuk barang maupun tunai menjadi kebutuhan masyarakat pada umumnya, bahkan kondisi ini tidak terbatas pada masyarakat di daerah-daerah yang sedang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Fakta lainnya lanjut Sellita, saat ini angka pengangguran di Indonesia mencapai 3,5 juta per orang, bahkan tingkat kemiskinan  bertambah dari 9,4% menjadi 9,78%.

Halaman
123
Penulis: Jhoni Kurniawan
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved