Rabu, 20 Mei 2026

MASKER dan Protokol Kesehatan Wajib Dipatuhi Pekerja UMKM Anugerah Kite

Dulu kan bisa bebas tanpa masker. Sekarang masker itu wajib, paling tidak pelindung wajah. Cuci tangan dan handsanitizer itu sudah aturannya

Tayang:
Penulis: Edy Yusmanto |
Freepik
ilustrasi foto 

BANGKAPOS.COM - Perubahan perilaku dirasakan betul oleh owner Anugerah Kite, Nurdiana sejak pandemi corona. 

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) khusus olahan hasil laut ini harus selalu memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan. 

Pola tiga M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker menjadi syarat bagi pekerja di rumah produksinya. 

Perubahan ini diterapkan Nurdiana di rumah produksinya yang ada di Desa Kurau Barat Kabupaten Bangka Tengah.

Semua pegawai yang masih didominasi keluarga wajib mencuci tangan dan memakai masker saat mengantar pesanan konsumen.

"Dulu kan bisa bebas tanpa masker. Sekarang masker itu wajib, paling tidak pelindung wajah. Cuci tangan dan handsanitizer itu sudah aturannya. Memang semua berubah sejak corona, itu baiknya," kata Nurdiana kepada bangkapos.com, kemarin.

Selain itu dari sisi ekonomi, Nurdiana harus mengubah cara kerja.

Produk andalannya pun beragam. 

Mulai dari ampiang ikan, kerupuk ikan, getas ikan/cumi/udang, stik cumi/udang, tinta cumi dan lain sebagainya.

Usaha ini sempat membuat keluarga Nurdiana tersenyum. 

"Sejak pandemi semua berubah. Dari awal tahun turun (pendapatan)," kata Nurdiana kepada bangkapos.com beberapa waktu lalu. 

Sebelum corona, Anugerah Kite mampu memproduksi lebih dari 100 kilogram beragam produk. 

Pemasarannya pun sudah baik. Konsumen sudah terjaga secara baik dan pemesaran rutin dilakukan. 

Namun semua berubah ketika corona melanda.

"Berubah sekarang, tak tahu sampai kapan begini (turun)," sebut Nurdiana. 

Tak banyak cara yang bisa dilakukan Nurdiana agar usahanya tetap eksis. 

Satu langkah konkrit yang bisa dilakukannya adalah mengurangi jumlah produksi.

Langkah ini diambil mengingat perputaran penjualan yang berujung pada pemasukan masih sangat minim. 

"Jadi produksi kita kurangi. Intinya bertahan dulu, kami tidak mau usaha ini terhenti. Makanya berusaha terus untuk tetap ada," jelas Nurdiana. 

Owner UMKM Anugerah Kite, Nurdiana dan Nur Aulia Zamani
Owner UMKM Anugerah Kite, Nurdiana dan Nur Aulia Zamani (Bangkapos.com/Edy Yusmanto)

Corona memaksa Nurdiana dan keluarga untuk terus kreatif. 

Harapannya ada banyak event-event lagi meski di tengah pandemi corona. 

Sehingga, potensi barang terjual jauh lebih besar. 

"Semoga saja ada (event). Jadi usaha ini bisa lebih baik," papar Nurdiana. 

Cara lain yang dilakukan Nurdiana adalah mengoptimalkan pemasaran.

Produk-produk yang dibuat dipasarkan melalui media sosial.

Dan tugas itu diberikan kepada anaknya.

"Dia ini (anak) yang suka main di medsos. Promo ke temen-temennya, alhamduliah masih terus berjalan," sebut Nurdiana.

Nurdiana bercerita usaha getas Anugerah Kite ini terbentuk tahun 2017. 

Awalnya, dia mengikuti pelatihan oleh pemerintah daerah.,

Dalam pelatihan itu, diajarkan soal perizinan dan kemasan barang-barang termasuk tanggal kedaluwarsa. 

Tentunya materi pelatihan tidak tepat.

Karena saat itu Nurdiana hanya berjualan kue seperti gorengan. 

Hal inilah yang membuat dirinya kesal dan termotivasi untuk bangkit dan membuat olahan hasil laut seperti kerupuk, getas dan stik. 

"Kesal aku, benar-benar kesal. Kan aku jual kue tapi ikut pelatihan soal PIRT. Pulang dari situ (pelatih), aku ajak suami beli kuali dan kompor untuk buat getas ikan," kenang Nurdiana. 

Tak langsung bisa, butuh waktu sampai satu bulan hasil olahan Nurdiana bisa dinikmati pasaran. 

"Gak ada yang ajarin, semua diam paling secara umum ya. Kadang buat berminya, bantet dan tidak layak dijual. Hampir satu bulan baru bisa dibantu keluarga pastinya. Alhamdulilah sampai sekarang," terang Nurdiana. (Bangkapos.com/Edy Yusmanto)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved