Breaking News:

Berita Sungailiat

Potret Kehidupan Nelayan Pantai Matras di Tengah Serbuan KIP, Terpaksa Gali Lobang Tutup Lobang

Puluhan warna warni perahu nelayan bersandar di hamparan pasir putih bibir Pantai Matras, Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: nurhayati
Potret Kehidupan Nelayan Pantai Matras di Tengah Serbuan KIP, Terpaksa Gali Lobang Tutup Lobang - kap4.jpg
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Aktivitas para istri nelayan memasak nasi dan lauk di pondok nelayan di pinggir Pantai Matras. Sudah sejak sebulan terakhir pondok kayu di pinggir Panta Matras dipenuhi oleh para nelayan, istri, hingga anak-anak. Kondisi ini terjadi karena sudah satu bulan terakhir ini pula nelayan tak bisa melaut sejak hadirnya kapal isap produksi (KIP) milik PT Timah yang beroperasi kurang lebih 2 mil dari bibir pantai.
Potret Kehidupan Nelayan Pantai Matras di Tengah Serbuan KIP, Terpaksa Gali Lobang Tutup Lobang - kap5.jpg
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Sudah sejak sebulan terakhir pondok kayu di pinggir Panta Matras dipenuhi oleh para nelayan, istri, hingga anak-anak. Kondisi ini terjadi karena sudah satu bulan terakhir ini pula nelayan tak bisa melaut sejak hadirnya kapal isap produksi (KIP) milik PT Timah yang beroperasi kurang lebih 2 mil dari bibir pantai.

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Puluhan warna warni perahu nelayan bersandar di hamparan pasir putih bibir Pantai Matras, Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka. Bau asin menusuk hidung di tengah cuaca mendung.

Kebulan asap hingga aroma wangi rempah mulai tercium saat mendekati pondok nelayan di pinggir pantai.

Beratapkan terpal hitam pelastik, kuali besar berisikan lempah kuning sedang sibuk diaduk-aduk ibu-ibu tepat di belakang pondok.

Ya, makanan itu dimasak secara gotong-royong untuk para nelayan yang pulang melaut dari pantai.

Sudah sejak sebulan terakhir pondok kayu itu dipenuhi oleh para nelayan, istri, hingga anak-anak, sudah satu bulan terakhir ini pula nelayan tak bisa melaut sejak hadirnya kapal isap produksi (KIP) milik PT Timah yang beroperasi kurang lebih 2 mil dari bibir pantai.

Bukan tak memberikan perlawanan, aksi penolakan terhadap beroperasinya kapal isap produksi (KIP) milik PT Timah itu,  sudah kerap kali dilakukan para nelayan.

Namun kapal berukuran besar itu tak juga kunjung pergi meninggalkan pantai.

Ada puluhan nelayan yang nasibnya terombang-ambing, istri, hingga anak-anak yang membutuhkan kebutuhan sekolah.

Tatapan mata Kinoy istri nelayan (40) tampak kosong memandang lamat-lamat ke arah hamparan lautan yang di tengahnya ada tiga buah kapal isap berukuran besar, diiringi rintik hujan dan suara riuh rendah para nelayan yang berkumpul di pondok.

"Padahal kami hanya mau cari makan, bukan untuk kaya, hanya untuk bayar utang untuk bertahan hidup," demikian kata yang diucapkan Kinoy saat ditanyai bagaimana perasannya saat ini, Selasa (15/12/2020).

Halaman
1234
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved