Breaking News:

WIKI BANGKA

15 Tahun Berjualan Sekoteng, Giman Mampu Sekolahkan 10 Anaknya Sampai Sarjana

Tubuh tuanya tak lagi kuat melawan dinginnya gelap malam, waktu menunjukan pukul 23:45 WIB Giman terlihat meringkuk di teras rumah

Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Giman yang akrab disapa Pakde, penjual sekoteng di simpang pantai Pasir Padi Pangkalpinang. Selama pandemi Covid-19 ini minuman dari jahe merah sekoteng dan bandrek yang dijualnya banyak dicari pembeli. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Tubuh tuanya tak lagi kuat melawan dinginnya gelap malam, waktu menunjukan pukul 23:45 WIB Giman terlihat meringkuk di teras rumah depan gerobaknya jualan.

Setiap ada yang ingin membeli sekoteng minuman jahe yang Giman jual ia selalu dibangunkan oleh para pedagang siomay atau ketoprak yang juga jualan disekitaran tersebut.

Sudah sejak 15 tahun lalu, Giman (62) berjualan minuman berasa jahe, bercampur kacang hijau, kacang tanah, pacar cina, dan potongan roti itu di simpang pantai Pasir Padi Pangkalpinang.

Gerobak kecil dengan pengayuh sepeda menempel dibelakangnya, biasa Giman letakan di depan gerobak siomay dan ketoprak, setiap hari sejak pukul 19.00 WIB malam sampai daganganya habis.

Tidak jarang ia baru pulang ke rumah pukul 13:00 WIB sebab menunggu sampai air jahe dalam tabung ukuran 60   liter itu benar-benar habis.

Giman yang akrab disapa Pakde, penjual sekoteng  di simpang pantai Pasir Padi Pangkalpinang. Selama pandemi Covid-19 ini minuman dari jahe merah sekoteng dan bandrek yang dijualnya banyak dicari pembeli.
Giman yang akrab disapa Pakde, penjual sekoteng di simpang pantai Pasir Padi Pangkalpinang. Selama pandemi Covid-19 ini minuman dari jahe merah sekoteng dan bandrek yang dijualnya banyak dicari pembeli. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Rumahnya tak begitu jauh dari tempat ia berjualan, bukan rumah miliknya pribadi tetap  hanya numpang di rumah sesorang yang setiap siang hari ia rawat kebunnya. Malam hari baru Giman berjualan sekoteng, kerap kali juga ia menyambil kerja bangunan.

Laki-laki asli Kota Semarang Jawa Tengah itu, tak memiliki saudara dekat di Pangkalpinang, ia hanya ikut temannya saja merantau ke Bangka untuk bekerja bangunan 15 tahun lalu.

Namun, membuat sekoteng dan berjualan sekoteng sudah ia tekuni sejak dirinya masih duduk dibangku SD ikut sang paman berjualan sekoteng di tanah Jawa.

Giman memiliki sepuluh orang anak, dan empat dari sepuluh anaknya berhasil lulus dengan  gelar sarjana, hingga anaknya yang paling bungsu juga sudah berkeluarga di Semarang.

Kata Giman, 15 tahun lalu hidup di Jawa tidak mudah hingga ia putuskan untuk merantau ke Bangka, agar dapat penghasilan yang bisa melanjutkan sekolah anak-anaknya.

Halaman
123
Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved