Selasa, 19 Mei 2026

BUAYA Seukuran Perahu (Seperti) Dipelihara Pak Ambo, Diberi Makan dan Diberi Nama Riska

Pak Ambo berteman dengan buaya seukuran perahu puluhan tahun. BUaya itu diberi nama Riska dan setiap hari diberi makan

Tayang:
Penulis: Edy Yusmanto |
facebook aboy slow
Buaya Riska ukurannya nyaris sebesar perahu 

BANGKAPOS.COM - 

Siapa yang tak ngeri lihat buaya?

Apalagi ukurannya sudah sebesarnya perahu ini.

Ada video yang memperlihatkan buaya raksasa yang ukurannya nyaris sebesar perahu.

Pemandangan tak lazim ini terlihat dalam video.

Dalam video yang beredar di facebook dari akun Aboy Slow pada NOvember 2020 lalu ini semua terlihat jelas. 

Seorang pria yang diketahui disapa Pak Ambo sedang memanggil buaya muara yang diberi nama Riska. 

Buaya ini terlihat sedang berjemur di bawah bakau. 

Mulutnya menganga.

Sekilas ukurannya tidak begitu jelas. 

Pak Ambo bersama beberapa orang naik perahu mendekati lokasi tempat santai buaya. 

Berkali-kali dipanggil, buaya tersebut tak menggubris.

Buaya Riska nyaris sebesar perahu
Buaya Riska nyaris sebesar perahu (facebook aboy slow)

Padahal, Pak Ambo membawa makanan berupa daging ayam yang merupakan kesukaan buaya. 

Dubutuhkan waktu hingga 12 menit lebih untuk merayu buaya untuk turun dan makan. 

Adegan inilah yang mengejutkan. 

Detik-detik buaya turun ke sungai, terlihat jelas ukurannya. 

Ternyata mungkin lebih besar ukuran buaya dari perahu yang dinaiki Pak Ambo

Ikatan Batin

Bangkapos.com melansir berita di kompas.com menyebutkan seorang pria terlihat asyik memberi makan seekor buaya sepanjang empat meter di Muara Sungai Guntung, Bontang, Kalimantan Timur.

Pria yang biasa disapa Pak Ambo itu terlihat akrab dengan "Riska", nama buaya yang sedang diberi makan itu.

Buaya itu hampir setiap hari mendatangi rumah Pak Ambo di Muara Sungai Guntung RT 002, Kelurahan Guntung, Bontang, Kaltim.

“Dia kalau tidak datang dua sampai tiga hari, saya cari dia (Riska). Saya sudah anggap anak sendiri,” kata Ambo di Bontang, Minggu (14/6/2020).

Ambo pertama kali menemukan Riska di perairan sekitar pabrik Pupuk Kaltim pada 23 tahun lalu. Saat itu, panjang Riska masih satu meter.

Ambo tak terlalu menghiraukan buaya tersebut.

Ia tetap mendayung perahunya pulang ke rumah.

Buaya Riska ukurannya nyaris sebesar perahu
Buaya Riska ukurannya nyaris sebesar perahu (facebook aboy slow)

Namun, buaya itu ternyata mengikuti perahu Ambo. Suatu ketika, Ambo melihat buaya itu berdiam di samping perahu yang disandarkan di depan rumahnya.

“Datang sendiri. Kok ada buaya di samping perahu saya. Kupanggil dia, datang. Saya beri makan, sampai sekarang,” kata pria kelahiran 1964 itu.

Ambo lalu memberikan nama Riska. Alasannya sederhana, buaya itu betina.

Nama itu juga sama dengan nama perahunya.

“Perahuku namanya Riska. Kadang saya main-main di Sungai Guntung datangi dia. Saya pakai perahu, saya dayung, dia (buaya) ikut di samping perahu saya,” kata Ambo.

Buaya sepanjang empat meter itu sering datang ke rumah Ambo saat lapar. Ambo pun memberikan tiga ekor ayam kepada buaya itu ketika berkunjung.

Usai menyantap makanan yang diberikan Ambo, buaya bernama Riska itu kembali ke perairan Sungai Guntung. Pernah ditinggalkan merantau Ambo pernah meninggalkan buaya itu selama dua tahun.

Saat itu, Ambo mendapatkan pekerjaan di Samarinda. Ketika berpisah, Ambo kerap mendapatkan laporan dari sang istri yang melihat buaya itu mondar-mandir di sekitar rumahnya.

Namun, Ambo telah menitip pesan agar warga sekitar memberi makan ketika melihat buaya itu.

“Kadang kalau saya tidak ada. Diberi makan sama warga sekitar,” tutur Pak Ambo.

Buaya Riska
Buaya Riska (facebook aboy slow)

Ambo selalu mengingatkan warga yang hendak memberi makan agar memperlakukan buaya itu dengan halus, sehingga buaya itu tak melukai warga.

“Jangan kasar. Jangan dimain-mainin. Jadi, kadang nelayan habis melaut beri makan ikan. Dia (buaya) menghampiri perahu nelayan diberi makan ikan sama nelayan,” kata Pak Ambo.

Dua tahun bekerja di Samarinda, Ambo memutuskan pulang ke Bontang mengurus buaya itu. Sejak merawat buaya itu 23 tahun silam, Ambo tak pernah diserang atau dilukai.

“Takut sih ada, tapi saya anggap sebagai anak sendiri. Sayang banget karena dari kecil ku pelihara. Sering saya elus-elus. Kumandikan, kugosok bagian belakangnya,” jelas Ambo.

Memiliki ikatan batin Kini, Ambo mengaku memiliki ikatan batin dengan buaya itu.

Buaya itu juga terlihat sangat jinak di hadapannya. Ambo mengaku tak tahu kenapa bisa begitu dekat dengan buaya itu.

“Saya juga bingung kenapa kami begitu dekat. Tapi, menurut kami orang Sulawesi, pasti ada hubungan keluarga kami dengan buaya. Kenapa dia jadi jinak begini. Dia kalau jalan ke mana-mana dipanggil, pasti kembali,” kata Pak Ambo.

Kini, banyak warga setempat yang mengunjungi rumah Ambo untuk melihat buaya sepanjang empat meter itu. Ambo berpesan agar warga yang datang membawa makanan untuk buaya bernama Riska itu.

“Harapan saya kalau ada yang datang, tolong bawakan dia makanan. Kalau saya perhatikan, buaya-buaya itu susah cari makan ikan,” jelas dia.

Makan Kerupuk 

Buaya satu ini memang tak biasa. 

Setiap hari ini dia hanya berdiam diri di bawah jembatan Desa Mancung Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat. 

Soal ukuran, buaya ini cukup besar.

Dan menariknya, buaya ini sangat menyukai kerupuk.

Ya kerupuk yang biasa dikonsumsi manusia. 

Padahal, banyak yang tahu buaya adalah pemakan daging.

Pemandangan tak biasa ini terjadi setiap hari sejak tahun 2012. hingga saat ini.

Seorang pemuda bernama Imam Algazali biasa dipanggl Al asli Desa Mancung menceritakan soal buaya ini. 

"Biasanya buaya-buaya di sini keluar kalau pagi biasa pukul 8, kalau sore pukul 2-5," kata Imam kepada bangkapos.com beberapa waktu lalu.

Sebenarnya ada lebih dari satu buaya yang sering muncul di bawah jembatan ini. 

Bahkan warnanya tak sama. 

Imam menyebutkan cuma satu buaya yang suka menyantap kerupuk. 

"Yang sering muncul tiga atau empat buaya di sini. Soalnya ada jenis kepala putih dan kepala kuning. Kalau kobleh ini yang suka makan kerupuk," tutur Imam.

Cerita awal buaya suka makan kerupuk ini kata Imam terjadi beberapa tahun silam. 

Kala itu, ada seorang pedagang kerupuk yang membuat kerupuk kedaluwarsanya ke sungai. 

"Karena dulu tuh dari umur dua tahun di sini. Dia sudah biasa tinggal di bawah jembatan. Ada orang China buang kerupuk. Jadi sampai sekarang dia terbiasa makan kerupuk hingga sekarang," jelas imam.

Tak Ganggu

Jembatan ini menjadi tempat nongkrong anak muda.

Sore hari menjadi ramai dan tak sedkit pula yang berkeinginan untuk melihat buaya ini makan kerupuk. 

Namun sampai saat ini buaya yang suka makan kerupuk ini tak pernah mengganggu manusia. 

"Dia tak pernah ganggu nelayan di sungai ini. Ganggu manusia belum ada (kabar). Cuma jadi tontonan seperti ini saja. Kalau ada orang lewat, buayanya keluar. Dia cuma mau makan kerupuk," tutur Imam.

Imam bersama teman-teman sempat mencoba memberikan makanan lain untuk si buaya.

Kala itu ada kerupuk dan daging ayam yang sama-sama dilemparkan ke sungai.

Dan fakta menariknya, si buaya yang disebut kobleh ini memilih untuk makan kerupuk.

"Kami pernah ngetes lempar daging ayam dan kerupuk. Memang dimakan daging ayam tuh tapi dia makan kerupuk dulu. Memang doyan makan kerupuk buayanya. Setahu kami dari 2012 dia keluar di sini," cerita Imam. 

Pantangan

Lokasi ini kini kian berkembang dan dikenal banyak orang.

Tak sedikit orang dari luar datang untuk melihat langsung buaya yang suka makan kerupuk. 

Tentunya hal ini, membuat Desa Mancung makin ramai dan dikenal masyarakat luas.

"Untuk tempat wisata bagi orang-orang yang datang dari luar," papar Imam.

Buaya di sini lanjut Imam konon dijaga pawang buaya. 

Hal ini dimaksudkan agar perilaku buaya tidak membuat resah.

Selain itu, ada pantangan yang diyakini masyarakat sekitar tidak boleh dilakukan selama ada di lokasi buaya.

"Karena buaya ini agik dijaga dukun, makanya aman. Ada banyak hal berbau mistis. Orang disini kan masih berbaur dengan hal-hal begitu. Jadi agik percaya akan hal macam itu. Pantangannya jangan buang telur, pisang dan jangan dipukul atau lempar pakai batu. Termasuk hindari memberi makan kerupuk pakai tali, takut buayanya marah. Itu imbauan dari dukun kami," jelas Imam. (Bangkapos.com/Edy Yusmanto/kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved