Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Cegah Stres Saat Isolasi Mandiri di Rumah,Psikolog Sebut Pasien Covid-19 Perlu Dukungan Sebagai Obat

Lonjakan kasus Covid-19 makin hari makin meningkat, membuat tempat karantina untuk isolasi pasien penuh

Ist/Siska
Biro Psikologi Q-tha sekaligus Dosen Konseling Pendidikan Islam IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramitha 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Lonjakan kasus Covid-19 makin hari makin meningkat, membuat tempat karantina untuk isolasi pasien penuh, maka sebagian pasien harus menjalankan karantina secara mandiri.

Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita mengatakan isolasi mandiri, menjadikan seseorang terbatas dalam ruang geraknya.

"Tidak bisa keluar rumah bahkan mungkin tidak bisa keluar dari kamar isolasi. Menjadi tidak bisa bekerja dan mencari nafkah, memikirkan keluarga yg mulai kesulitan ekonomi. Belum lagi menghadapi stigma buruk dari lingkungan yang hingga saat ini menurut pola pemikiran yang salah jika terjangkit covid 19 maka merupakan aib, disingkirkan atau dikucilkan," jelas Siska, Senin (11/1/2021).

Diakui, hal-hal tersebut tentu akan membuat keadaan psikologis makin tertekan, sulit berpikir secara rasional, menjadi putus asa dan jelas membuat semangat turun yang akhirnya berdampak pada imunitas diri makin melemah.

"Jika ditanya apakah bisa menyebabkan depresi hingga bunuh diri, tentu tidak semua orang bisa berada diposisi ini. Pasien yang kurang dukungan dari orang terdekat, merasa diri tidak berguna, merasa membuat keluarga malu dan pikiran negatif lainnya yang muncul. Akhirnya membuat psikologis makin terganggu, diawali dengan keadaan stres hingga depresi. Keinginan bunuh diri menjadi salah satu kriteria seseorang telah memasuki fase depresi berat," jelas Siska.

Dalam kasus seperti ini tentu bukan hanya peran obat-obatan atau segala macam bentuk vitamin yang dapat menyembuhkan covid-19 tetapi hal ini juga perlu didukung dengan kesehatan mental.

Saat ini sudah banyak layanan-layanan psikologi yang dibuka untuk membantu pasien jika mengalami gangguan psikologis dalam menghadapi penyembuhan covid-19.

"Namun mungkin belum dimanfaatkan secara maksimal atau mungkin masih banyak yg belum tau demgan layanan tersebut atau bisa juga masih memiliki rasa malu yang besar karena merasa memiliki aib," kata Siska.

Kondisi seseorang saat dinyatakan positif covid 19, mungkin bagi beberapa orang menjadi pukulan yang berat maka hal ini harus segera diatasi.

Selain mengikuti protokol kesehatan yang sudah dianjurkan oleh pemerintah, mendapatkan penanganan medis dengan cepat dan tepat dan dukungan diri dari keluarga, kerabat menjadi salah satu obat dalam mendukung kesembuhan pasien.

Halaman
1234
Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved