Breaking News:

Sosok Harun Yahya, Gembong Kriminal dan Pelecehan Seksual, Kini Dijatuhi Hukuman 1.075 Tahun Penjara

Sosok Harun Yahya, Gembong Kriminal dan Pelecehan Seksual, Kini Dijatuhi Hukuman 1.075 Tahun Penjara

Hürriyet Daily News
Sosok Harun Yahya, Gembong Kriminal dan Pelecehan Seksual, Kini Dijatuhi Hukuman 1.075 Tahun Penjara - Adnan Oktar alias Harun Yahya bersama para wanitanya. 

Jaksa penuntut mengatakan, geng yang dipimpinnya telah terlibat dalam skema rekrutmen sejak akhir 1990-an, dan melibatkan pencucian otak terhadap para perempuan muda.

"Organisasi tersebut menggunakan anggotanya yang tampan untuk menipu gadis dan wanita muda. Anggota tersebut memperkosa atau melecehkan wanita secara seksual, dan diperas terlebih dahulu oleh anggota yang berpura-pura bahwa hubungan intim mereka direkam dalam video. Mereka juga dicuci otak dengan dalih ajaran agama," kata jaksa dalam dakwaan.

Siapa Harun Yahya?

Memakai nama alias Harun Yahya, Adnan Oktar mulai mendulang popularitas sebagai pemimpin sebuah kelompok relijius kecil di Universitas Istanbul pada tahun 1980-an.

Baca juga: Avsec Investigasi Terkait Dua Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 Diduga Gunakan KTP Orang Lain

Baca juga: Sempat Ditangisi Keluarga Dikira Jatuh Bersama Sriwijaya Air, Yulius Ternyata Sudah Sampai Pontianak

Oktar berusaha menarik minat pemuda Istanbul yang kaya dan berpengaruh, dengan membawa nama Islam.

Melansir Hurriyet Daily News, sepak terjang Adnan Oktar itu terdokumentasikan dalam buku berjudul The Mahdi Wears Armani: An Analysis of The Harun Yahya Enterprise yang ditulis oleh Anne Ross Solberg, dan dipublikasikan oleh Sodertorn University di Swedia.

Harun Yahya ditangkap oleh Kepolisian Istanbul, Turki (The National) ((The National))
Harun Yahya ditangkap oleh Kepolisian Istanbul, Turki (The National) ((The National))

Oktar semakin populer setelah menyuarakan sentimen anti Yahudi, anti Freemason, anti Komunis, dan serangkaian teori konspirasi lainnya.

Puncaknya, pada 1987, Oktar, dengan nama Harun Yahya, menerbitkan buku setebal 550 halaman berjudul Judaism and Freemasonry.

Buku itu berisi argumentasi Oktar yang mengatakan bahwa kaum Yahudi dan Freemason telah berhasil menyusup ke institusi negara Turki, dan berupaya untuk mendegradasi moral, spiritualitas, dan relijiusitas warga Turki.

Buku itu sangat laris, hingga dicetak hampir 100.000 kali.

Halaman
1234
Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved