Breaking News:

Timah

Saham PT Timah Tbk (TINS) Pecahkan Rekor 10 Tahun, Harga Timah Juga Naik

Saham PT Timah Tbk. mencapai level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir setelah ditutup dengan lonjakan lebih dari 20 persen di sesi pertama perdaga

Bangka Pos/Ibnu Taufik Juwariyanto
CEO FORUM- Dirut PT Timah, duduk sebagai satu pembicara inti dalam CEO FOrum yang menjadi bagian penting dari gelaran ASIA TIN WEEK 2019 yang digelar di xian, China 3-5 September 2019 

BANGKAPOS.COM -- Saham PT Timah Tbk. mencapai level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir setelah ditutup dengan lonjakan lebih dari 20 persen di sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis (14/1/2020). 

Sejumlah analis menilai PT Timah Tbk (TINS) masih memiliki prospek yang cerah seiring dengan cerahnya prospek harga timah dunia saat ini.

Melansir kontan.co.id, analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Maryoki Pajri Alhusnah menilai, meskipun kinerja yang masih tertekan pada kuartal ketiga 2020, TINS berhasil melakukan efisiensi biaya pada kuartal ketiga kemarin.​

“Berbicara prospek, maka TINS sendiri memiliki prospek yang cukup bagus tahun ini selama harga timah stabil didukung beberapa katalis,” terang Maryoki kepada Kontan.co.id, Kamis (14/1).

 Adapun sejumlah katalis yang dimaksud antara lain ekonomi China yang mulai pulih, mulai pulihnya aktivitas manufaktur elektronik, hingga booming-nya tren kendaraan listrik. Selain itu, TINS juga akan melanjutkan strateginya untuk efisiensi biaya.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia sebagai  penghasil nikel terbesar di dunia memiliki rencana untuk mengetatkan ekspor timah konsentrat. Maryoki mengatakan, wacana ini tentu akan mempengaruhi suplai timah dunia dan akan berdampak ke kinerja TINS.

Dalam risetnya yang bertajuk Market Outlook 2021, Jumat (8/1), analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri memperkirakan harga timah akan solid di semester pertama 2021. Hal ini sejalan dengan pemulihan kegiatan ekonomi, optimisme akan ketersediaan vaksin Covid-19, dan dukungan ekonomi dari pemerintah.

Dari sisi penawaran, terjadinya musim penghujan antara November hingga Maret di negara-negara penghasil utama timah, seperti Indonesia, diperkirakan akan mengganggu pasokan pada kuartal pertama 2020. Oleh karena itu, BRI Danareksa Sekuritas mengasumsikan harga timah rata-rata akan berada di level US$ 19.000 per ton untuk tahun ini dan US$ 20.000 per ton untuk tahun 2022.

Di sisi lain, dengan adanya pemulihan ekonomi China pada tahun 2020, dan pemulihan penuh yang diharapkan terjadi pada tahun 2021, BRI Danareksa memperkirakan adanya normalisasi kebijakan ekonomi dan pelonggaran kebijakan era pandemi yang akan mengarah pada pengurangan paket stimulus. Karenanya, hal ini diyakini akan mengurangi permintaan komoditas tambang logam global pada semester kedua tahun ini.

Untuk prospek TINS, Stefanus mengharapkan adanya peningkatan pendapatan untuk tahun 2021. Proyeksi ini terutama karena adanya ekspektasi harga timah  yang solid, penurunan utang yang berkelanjutan untuk memperkuat posisi neraca, serta inisiatif efisiensi biaya.

Halaman
12
Editor: Teddy Malaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved