Selasa, 16 Juni 2026

Kamboja Berteman dengan China, Kini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Secara Gratis

Kamboja Berteman dengan China, Kini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Secara Gratis

Tayang:
DW INDONESIA
Tampilan vaksin corona yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Cina, Sinovac 

Kamboja Berteman dengan China, Kini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Secara Gratis

BANGKAPOS.COM, BEIJING -- Negara Kamboja akan menerima sumbangan 1 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac secara gratis dari China

Adapun keterangan itu disampaikan PM Kamboja Hun Sen, seraya berterima kasih kepada China, teman mereka.

Kamboja sudah sejak lama menjadi sekutu setia Beijing, dan telah menerima miliaran dollar dalam bentuk pinjaman lunak dan investasi dari China.

Contoh lainnya, saat awal wabah virus corona banyak negara melarang kedatangan orang dari China, tetapi Hun Sen justru menuju Beijing untuk bertemu Xi Jinping guna menguatkan solidaritas.

Kemudian yang terbaru, PM Kamboja itu pada Jumat malam (15/1/2021) mengumumkan, China menawarkan donasi vaksin Sinovac.

Baca juga: Nurdin Ruditia Meninggal Dunia, Nita Thalia Bagikan Potret Bersama Mantan Suami hingga Ucap Hal Ini

Baca juga: Suami Harus Tahu!, Ini 6 Ramuan Alami Berkhasiat Meningkatkan Gairah Seksual Wanita, Dicoba Yuk

Baca juga: Pengamat Sebut Sriwijaya Air SJ 182 Diduga Hendak Berpindah Jalur dan Ada Disorientasi

"Teman China membantu kami dengan 1 juta dosis," kata Hun Sen dalam pesan audio di akun Facebook-nya yang dikutip AFP.

Ia menambahkan, 1 juta dosis vaksin corona Sinovac itu akan dipakai memvaksinasi 500.000 orang.

"Untuk mencegah negara dan orang-orang terinfeksi virus mematikan ini, kamu harus memakai vaksin yang digunakan para pemimpin China dan jutaan orang... Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi," imbuhnya.

Golongan pertama yang akan mendapat suntikan vaksin Covid-19 di Kamboja adalah tenaga kesehatan, guru, pengawal perdana menteri, dan pejabat di sekeliling raja, katanya.

Vaksin Sinovac juga disuntikkan di Turki pada Jumat (15/1/2021), setelah hasil tes di sana menunjukkan efektivitas 91,25 persen.

Namun hasil uji coba di Brasil tingkat kemanjurannya hanya 50 persen, jauh lebih rendah daripada vaksin virus corona lainnya seperti Moderna, Pfizer-BioNTech, dan AstraZeneca.

Sementara itu uji coba di Indonesua menunjukkan keampuhan 65,3 persen dan sudah disuntikkan ke beberapa orang termasuk Presiden Joko Widodo.

Baca juga: Sekelompok Pemburu Hantu ini Lari Terbirit Birit Setelah Buka Lemari Es di Rumah Kosong, Melihat ini

Baca juga: Masihkah Anda Mimpi Motor Murah Rp 6-7 Jutaan di Indonesia?

Kamboja mencatatkan angka kasus Covid-19 yang rendah, sejauh ini hanya 436 kasus, tetapi menurut para pakar itu karena jumlah pengujian yang rendah.

Selain Kamboja, Beijing juga menawarkan Myanmar 300.000 dosis vaksin Sinovac, yang dijanjikan oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi.

Tim Ahli WHO Tiba di Wuhan

Tim dari World Health Organization (WHO) akhirnya menyelidiki kembali virus corona di China.

Tim ahli dari WHO dilaporkan telah mendarat di Wuhan, China pada Kamis (14/01).

Mereka akan kembali melaksanakan misi yang telah lama tertunda: menyelidiki asal usul virus corona.

Lembaga penyiaran pemerintah Cina CGTN menunjukkan kedatangan pesawat mereka dari Singapura.

Baca juga: Nisan Syekh Ali Jaber Ditulis Tangan Kaligrafi Internasional Bersanad Rasulullah, Syekh Beleid

Baca juga: Resep Lezatnya Kue Jeruk, Kaya Vitamin C, Antioksidan, Enak dan Sederhana Ala Rumahan, Sehat Lho

Penyelidikan oleh tim ahli ini diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan.

Peter ben Embarek, ketua tim ahli untuk misi tersebut mengatakan bahwa mereka akan memulai pekerjaan dengan menjalankan karantina terlebih dahulu selama dua minggu di sebuah hotel.

Hal ini sesuai dengan persyaratan perbatasan yang diberlakukan oleh Cina.

“Dan kemudian setelah dua minggu, kami akan dapat bertemu dengan rekan-rekan kami dari Cina secara langsung dan pergi ke berbagai lokasi yang ingin kami kunjungi,” katanya.

Dia memperingatkan bahwa misi ini “bisa menjadi sebuah perjalanan yang sangat panjang sebelum mendapatkan pemahaman penuh tentang apa yang sebetulnya terjadi.”

Beijing berpendapat bahwa meskipun Wuhan adalah lokasi dari kasus pertama yang terdeteksi, belum tentu virus itu berasal dari sana.

“Saya kira kita tidak akan langsung mendapatkan jawaban yang jelas setelah misi awal ini, tetapi kami akan tetap bekerja,” tambah Embarek.

“Idenya adalah untuk mendapatkan kemajuan dari sejumlah studi yang telah dirancang dan diputuskan beberapa bulan lalu agar kita bisa lebih memahami apa yang terjadi,” katanya.

Baca juga: Doa & Pesan Terakhir Syekh Ali Jaber Seperti Jadi Firasat dan Momen Romantis Terakhirnya Sama Istri

Perjalanan tim ahli dari WHO ini baru terealisasi lebih dari setahun setelah pandemi bermula.

Hal ini telah memicu ketegangan politik atas tuduhan bahwa Beijing berusaha menggagalkan misi tersebut.

Kematian Pertama Setelah 8 Bulan

China melaporkan kematian pertama akibat virus setelah delapan bulan

Di hari yang sama, Cina juga melaporkan kematian pertama akibat COVID-19 dalam delapan bulan.

Selain informasi bahwa kematian terjadi di provinsi Hebei, otoritas kesehatan belum memberikan keterangan lebih detail terkait kematian tersebut.

Saat berita kematian terbaru ini muncul, tagar “Kematian baru akibat virus di Hebei” dengan cepat viral di platform media sosial Cina bernama Weibo, dengan jumlah penayangan mencapai 100 juta.

“Saya sudah lama tidak melihat kata-kata ‘kematian akibat virus’, ini sedikit mengejutkan! Saya harap epidemi ini segera berlalu,” tulis seorang pengguna.

Tidak ada kematian yang dilaporkan di Cina sejak Mei tahun lalu. Sampai kini, jumlah kematian resmi yang tercatat di Cina mencapai 4.635 kematian.

Cina bergulat dengan meningkatnya infeksi

Saat ini, Cina tengah menghadapi meningkatnya kembali kasus infeksi COVID-19.

Lebih dari 20 juta warga di Cina bagian utara kini hidup di bawah status lockdown dan satu provinsi telah mengumumkan status darurat.

China telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan wabah, yaitu melalui serangkaian lockdown atau penguncian ketat dan juga pengujian massal.

Namun, pada Kamis (14/01), sebanyak 138 kasus infeksi baru dilaporkan oleh Komisi Kesehatan Nasional China – rekor harian tertinggi sejak Maret tahun lalu.

Angka infeksi ini memang relatif kecil dibandingkan banyak negara lain yang mengalami rekor jumlah infeksi lebih tinggi.

Namun Beijing sangat berupaya keras membasmi kluster-kluster lokal menjelang festival Tahun Baru Imlek bulan depan.

Ratusan juta orang diperkirakan akan berlalu-lalang di seluruh negeri.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tim Ahli WHO Tiba di Wuhan, Sementara Cina Kembali Laporkan Kematian Baru COVID-19 dan di Kompas.com: Berteman dengan China, Negara Kerajaan Ini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Gratis dan juga telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jadi Sekutu China, Negara Ini Dapat 1 Juta Vaksin Sinovac Secara Gratis

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
Live
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved