Breaking News:

Berita Bangka Tengah

Merasa Tak Dapat Perhatian, Atlet Sepak Takraw Bangka Tengah Pindah Sekolah

Sejumlah atlet sepak takraw Bangka Tengah untuk Popda Provinsi Bangka Belitung merasa tak mendapatkan perhatian dari sekolah mereka.

ist
Kunjungan Pengurus Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Bangka Belitung ke Pondok Pesantren MA Al Al Sungai Selan sekaligus mengantarkan atlet Bangka Tengah untuk belajar dan berlatih persiapan Popnas 2021. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sejumlah atlet sepak takraw Bangka Tengah untuk Popda Provinsi Bangka Belitung merasa tak mendapatkan perhatian dari sekolah mereka.

Mereka yang telah menorehkan prestasi di sejumlah kejuaraan itu pun memutuskan untuk pindah sekolah lain yang dinilai lebih memperhatikan mereka.

Itulah yang dirasakan setidaknya oleh tiga atlet sepak takraw Bangka Tengah, Jordi, Rahmat Hidayat dan Indra.

"Kurangnya perhatian dari sekolah terhadap prestasi yang sudah kami raih membuat kami harus memilih sekolah yang mendukung prestasi dan hobi kami. Karena kami berlatih dari kelas 4 SD sampai menjuarai tingkat kabupaten dan provinsi mulai Popda 2018 di Belitung Timur dan Popda 2020 di Bangka Selatan," ujar Jordi, Kamis (21/1/2021).

"Tidak ada perhatian dari pihak sekolah. Jangankan memberikan bantuan peralatan belajar dan berlatih, ucapan selamat pun dari pihak sekolah tidak ada. Kami sudah bercucuran keringat berlatih pagi sore, paha biru dan kening kena Bola tidak ada perhatian memangnya mudah salto, jatuh di lantai semen," lanjutnya.

Terpisah, Ketua Umum Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Bangka Belitung Kaimudin membenarkan atlet binaannya pindah sekolah.

"Iya benar bahwa beberapa atlet pindah sekolah sudah sebulan yang lalu. Orangtua atlet datang ke rumah menyampaikan keinginan untuk memindahkan anaknya dan saya kaget kenapa, mereka bilang takut anak nya tidak naik kelas. Jadi saya sampaikan di mana pun kita sekolah pada prinsipnya sama saja. Ternyata mereka trauma dengan kejadian yang dialami senior mereka yang harus memohon kepada pihak sekolah untuk naik kelas," ujar Kaimudin .

"Saya tidak bisa melarang sebab itu hak mereka karena kami hanya melatih anak-anak mereka untuk punya mental juang dan patriotisme dalam bertanding. Sementara untuk masalah nilai di kelas masing-masing itu hak sekolah kami tidak berhak berkomentar," lanjut Kaimudin.

Baca juga: Fasilitas Lengkap, Rumah Sakit Covid-19 Bangka Belitung Mulai Beroperasi

Baca juga: Pekerja Tambang Timah Tewas Tertimpa Batu di Bukit Sambung Giri

Baca juga: Danrem 045/Gaya Terima Aset Makodim dari Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan

Dia berharap atlet binaannya bisa menjalankan proses belajar mengajar di sekolah dengan giat dan tekun.

Belajar di sekolah adalah proses yang harus dilewati seorang siswa, termasuk atlet.

Apalagi dia adalah atlet berprestasi di bidang olahraga, tentunya ini harus didukung.

"Artinya apa, prestasi olahraga tidak bisa kita pandang sebelah mata, harus kita beri apresiasi yang mana mereka ini calon-calon atlet nasional semua atlet nasional itu di seleksi dari atlet pelajar yang diseleksi dari Popnas kemudian mewakili Indonesia ke Asean school dan masuk Pelatnas itu tahapan yang harus dilewati oleh seorang atlet karena itu merupakan pengalaman bertanding untuk mengasah mental dan keterampilan individu dan tim dalam bertanding," imbuhnya .

Saat ini, kata dia, pihaknya menyiapkan atlet 4 sampai 6 tahun dengan jadwal latihan yang terprogram.

"Jadi kami serahkan sepenuhnya kepada orangtua siswa, jika sudah meridhoi niat anak-anak untuk pindah kami siap memfasilitasi dan melakukan koordinasi dengan pihak sekolah pilihan anak anak mereka untuk menuntut ilmu," tukasnya. (Bangkapos.com / Widodo)

Penulis: Widodo
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved