Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Ujian Nasional Ditiadakan Diganti Dengan Asesmen Nasional, Ini Cara Tentukan Kelulusan

Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah menyiapkan pengganti Ujian Nasional 2021

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang Eddy Supriadi 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah menyiapkan pengganti Ujian Nasional 2021,  yakni dengan Asesmen Nasional.

Asesmen Nasional tidak hanya dirancang sebagai pengganti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang Eddy Supriadi, menyebutkan dengan Asesmen Nasional ini, tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

"Asesmen Nasional ini kan pengganti UN tetapi dia bukan menguji ilmu pengetahuan tetapi keseluruhan proses yang ada di sekolah. Nah kalau untuk penentuan kelulusan kitakan sekolah ini ada evaluasi, ada ujian tengah semester, ujian harian, tugas-tugas daring, dunia pendidikan ini berproses buakn sebuah pengujian," jelas Eddy kepada Bangkapos.com, Kamis (28/1/2021).

Eddy menyebutkan, mestinya tidak ada alasan siswa SD kelas 6 dan siswa kelas 3 SMP tidak dapat lulus sekolah.

"Harusnya tidak ada alasan untuk tidak lulus, pengetahuan itu kalau siswanya itu belum tuntas guru wajib memberi remedial, jadi tidak ada yang tidak tuntas sebetulnya karena banyak penilaiannya. Tingkatan kemampuan peserta didik kita itukan bertahap," sebutnya.

Kata Eddy, potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil asesmen nasional itu nantinya akan menjadi cermin untuk bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia.

Adapun, Asesmen Nasional ini terdiri dari tiga bagian. Yakni, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

Menurutnya, AKM nantinya akan untuk mengukur keseluruhan sistem, sebab kata Eddy pendidikan itu adalah sebuah proses bukan sesuatu yang harus dibebankan kepada peserta didik.

"AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Kedua aspek kompetensi minimum ini, menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan," jelasnya.

Asesmen Nasional 2021, dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid.

"Hasil asesmen nasional tidak ada konsekuensinya buat sekolah, hanya pemetaan agar tahu kondisi sebenarnya yang ada di sekolah itu agar nanti ada peningkatan dalam berposes. Jadi UN yang digantikan itu tidak membebankan peserta didik," tegas Eddy.

Eddy menuturkan, saat ini memang mau tidak mau semua harus menerima keadaan selama pandemi covid-19 ini.

"Saat ini yang paling utama memang adalah kesehatan dan keselamatan peserta didik kita. Ya kita harapkan anak-anak kita bisa fokus belajar kalau memang ada kendala silahkan berkoordinasi dengan ibu dan bapak guru di sekolah," harapnya.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved