Breaking News:

Melayu dan Arab

njang soeka taroh satoe kabar dari dagang atawa beladjar, berseangkat, datang dari pendjoewalan barang, harga oetawa dari lain2 kabar, ija boleh

Melayu dan Arab
IAIN SAS Bangka Belitung
M. Thaib Rizki, Dosen Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- “Bermoelanja kita mengloearkan kepada orang2 njang soeka batja ini Soerat Kabar, njang bergoena soeda terseboet di dalam Soerat Kabar Oostpost, jaini Soerat Kabar bahasa Melaijoe sanget didjadikan pertolongannja orang berdagang di negrie Djawa soblah timoer. Mangka segala orang berdagang njang soeka taroh satoe kabar dari dagang atawa beladjar, berseangkat, datang dari pendjoewalan barang, harga oetawa dari lain2 kabar, ija boleh kirim di kantor tjitakan ini soerat di kota Soerabaija.”(Pusat Dokumentasi Sastra Suripan Sadi Hutomo: 1995)

Bingung ya!? bisa dibaca!? Atau mata terasa nanar saat melihat susunan hurufnya? Yang jelas, kalimat di atas bukan karena typo, bukan pula karena ber-alay ria. 

Masih dalam atmosfer yang sama, 9 Februari 2021 diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) dengan tema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi dengan Pers sebagai Akselerator Perubahan”. Terlepas dari tema, bila menelisik sejarah, kata “Melayu” pernah bersinergi dengan kata “Pers”.

Singkatnya, sehimpunan kalimat di atas adalah bukti sejarah berupa tulisan dari “Soerat Kabar Bahasa Melaijoe” yang dinobatkan sebagai surat kabar berbahasa Melayu pertama kali.

Surat kabar ini terbit di Surabaya pada tanggal 12 Januari 1856. Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahasa Melayu yang digunakan sudah dalam bentuk aksara latin.

Sebenarnya, menurut keterangan Ajib Rosidi, bahasa Melayu  ditulis dengan huruf Arab. Huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu disebut juga huruf Jawi/ Arab-Melayu.

Tulisan Arab Melayu bermula saat bangsa Melayu menerima agama Islam kira-kira sejak tahun 1200-1300 M (Irfan Shofwani, 2005: 9). 

Saat Islam berkembang di Nusantara, para Ulama berusaha menerjemahkan Kitab suci al-Qur’an, hadis dan kitab-kitab lain tentang Islam yang notabenenya berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu.

Sebut saja di antaranya kitab Mathla’ul Badriyyin, Sabilul Muhtadin ditulis oleh Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari tahun 1784 M, ad-Durrun Nafis  ditulis oleh Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari tahun 1785 M, ‘Amal Ma’rifah  ditulis oleh Syaikh Abdurrahman Siddik al-Banjari tahun 1905 M (Irfan Shofwani, 2005: 10).

Hasil dari itu, masyarakat Melayu baik para pejabat kerajaan hingga rakyat biasa mempelajari bacaan dan tulisan Arab Melayu melalui kajian dan karya ulama tersebut. 

Halaman
12
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved