Breaking News:

Putri Petinggi Militer Irak Beberkan Alasan Amerika Bunuh Abu Mahdi dan Jendral Qassem Soleimani

Donald Trump jadi daftar pertama orang yang diincar oleh Iran, tak mau perang saudara di Irak dan Iran berhenti, jadi otak pembunuhan Jendral Qassem

Al Jazeera
Jenderal Qassem Soleimani, panglima Garda Revolusi Iran 

BANGKAPOS.COM, TEHERAN -- Peristiwa tewasnya Jendral Qassem Soleimani dan Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Populer Irak (PMF), Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan perintah Donald Trump masih membekas.

Kedok Donald Trump yang tak ingin perang saudara berakhir terungkap hingga ia membunuh dengan rudal dua petinggi militer Irak dan Iran ini.

Hal ini diungkap langsung oleh putri mendiang Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Populer Irak (PMF), Abu Mahdi al-Muhandis.

Dia mengatakan bahwa ayahnya dan Jenderal Qassem Soleimani memberi suntikan baru ke front perlawanan asing.

BACA JUGA:

--> Menlu AS Bikin Israel Ketakutan, Iran Segera Punya Senjata Nuklir, Netanyahu Cari Dana Buat Perang

“Hubungan erat antara kedua martir dimulai pada akhir 1990-an ketika martir Abu Mahdi menjadi komandan Organisasi Badr di Irak dan martir Soleimani adalah komandan Pasukan Qods IRGC,” kata Manar Al-e Ebrahim, putri Jamal Al- e Ebrahim, nama asli Abu Mahdi al Muhandis, Minggu (14/2/2021).

MARTIR IRAK - Manar Al e-Ibrahim, putri mendiang pemimpin paramiliter Hasd al-Shaabi atau Popular Mobilization Unit (PMU) Irak menyebut hubungan atyahnya dengan Jenderal Qassem Soleimani bak saudara. Kematian keduanya dipercaya menyuntikkan semangat perlawanan menghadapi agresi asing.
MARTIR IRAK - Manar Al e-Ibrahim, putri mendiang pemimpin paramiliter Hasd al-Shaabi atau Popular Mobilization Unit (PMU) Irak menyebut hubungan atyahnya dengan Jenderal Qassem Soleimani bak saudara. Kematian keduanya dipercaya menyuntikkan semangat perlawanan menghadapi agresi asing. (())

“Saya tahu mereka melihat satu sama lain sebagai saudara,” tambahnya dikutip kantor berita Iran, Fars News Agency.

Manar mengatakan pada akhir 2002, beberapa bulan sebelum AS memulai agresi militer terhadap Irak, ayahnya mengundurkan diri dari kepemimpinan Organisasi Badr dan keanggotaan di Dewan Tertinggi Islam Irak.

Ia tidak ingin menjadi bagian dari perundingan dengan AS.

Halaman
1234
Editor: Hendra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved