Breaking News:

Alasan Kenapa Pria Rentan Mengalami Kebotakan dan cara Mengatasinya

Sebelum rontok, rambut akan memasuki masa transisi selama 2-3 minggu (fase katagen).

Freepik.com
Ilustrasi kebotakan 

BANGKAPOS.COM - Rambut rontok adalah lepasnya rambut secara berlebihan. Kondisi ini dapat mengakibatkan penipisan rambut atau kebotakan, baik sementara atau permanen.

Dilansir dari alodokter.com, jumlah rambut seseorang akan lepas atau rontok sekitar 50-100 helai setiap harinya.
Hal ini normal, karena terdapat juga rambut yang tumbuh setiap harinya.

Pertumbuhan rambut normal akan diawali dengan fase pertumbuhan (anagen), di mana rambut akan tumbuh dan bertahan selama 2-6 tahun.

Setelah itu, rambut akan rontok dan akan tumbuh kembali 2-3 bulan setelah rontok (fase telogen).

Sebelum rontok, rambut akan memasuki masa transisi selama 2-3 minggu (fase katagen).

Jika siklus pertumbuhan rambut ini terganggu, rambut akan rontok hingga berujung pada kebotakan.

Kebotakan menjadi momok menakutkan bagi pria.

Seiring bertambahnya usia, pria memang rentan mengalami ekrontokan rambut yang berakibat pada kebotakan.

Menurut data Cleveland Clinic, pria di dunia mengalami kerontokan rambut saat memasuki usia 50 tahun.

Sekitar 70 persen pria mengalami kebotakan seiring bertambahnya usia.

Celakanya lagi, 25 persen pria mengalami tanda-tanda kebotakan saat berusia 21 tahun.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Menurut pakar dermatologi Amy Kassouf, kebotakan pada pria ditentukan oleh interaksi faktor endokrin dan kecenderungan genetik.

Jadi, jika ayah atau paman Anda botak, kemungkinan besar Anda juga memiliki nasib yang sama.

Ketika mencapai masa pubertas, pria menghasilkan androgen alias hormon seks.

Jika memiliki gen kebotakan, hormon androgen bisa berinteraksi dengan gen tersebut untuk memperkecil folikel rambut.

Akibatnya, rambut menjadi rontok dan digantikan oleh rambut kecil yang tidak berpigmen atau berbentuk bulu halus yang nyaris tidak terlihat.

Proses ini terjadi di seluruh kulit kepala Anda sampai prosesnya selesai.

Akhirnya, folikel menjadi tidak aktif dan bahkan berhenti menghasilkan bulu halus.

Bagaimana mengatasinya?

Beberapa jenis obat yang telah mendapat ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS adalah minoksidil topikal (Rogaine) dan finasteride (Propecia).

Minoksidil adalah vasodilator yang juga digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi.

Ketika digunakan untuk mengobati rambut rontok, zat dalam obat ini dapat memperlebar pembuluh darah dan memberikan lebih banyak aliran darah ke folikel rambut.

Penggunannya diaplikasikan langsung ke kepala.

Sementara, finasterides (FNS) adalah senyawa sintetis yang memblokir konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT).

Namun, jangan sembarangan menggunakan obat karena ada efek sampingnya.

Jadi, Anda tetap harus berkonsultasi dengan dokter sebelum memakainya. 

Pada finastrerides, misalnya, bisa mengakibatkan efek smaping berupa:

* Penambahan berat badan.

* Kulit yang gatal.

* Kebingungan.

* Sakit punggung.

* Sakit perut.

* Diare.

*Penurunan air mani.

* Nyeri testis.

Selain itu, kebotakan juga bisa diatasi dengan metode transplantasi rambut. Metode ini melibatkan penggunaan operasi untuk memindahkan foliker rambut sehat di bagian tubuh tertentu ke bagian yang botak. Karena melibatkan operasi, proses penyembuhannya pun lama dan harganya mahal.

(Kompas.com/Ariska Puspita Anggraini)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Mengapa Pria Rentan Alami Kebotakan?

Editor: suhendri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved