Breaking News:

Horizzon

Saat Harga Diri Covid-19 Jatuh di Belitung

Peradaban di Belitung tampaknya memang benar-benar sudah bisa berdampingan dengan Covid-19.

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: suhendri
Saat Harga Diri Covid-19 Jatuh di Belitung
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

ALUNAN lagu-lagu lawas merdu terdengar dari sebuah kafe kecil di pojok Kota Tanjungpandan, Belitung. Diiringi satu keyboard dan satu gitar melodi, sejumlah biduan dan biduanita silih berganti memamerkan suara emasnya.

Sejak lepas isya, koleksi lagu-lagu yang pernah dipopulerkan oleh Nia Daniati, Pance, D'Lloyd dan lainnya tak henti menjadi backsound pengunjung kafe ini menikmati malam dia akhir pekan. Tepuk tangan basa-basi juga senantiasa riuh setiap lagu usai dinyanyikan.

Di sudut kafe, ada enam hingga tujuh ibu-ibu yang sudah berumur memenuhi satu meja kecil. Tak mau kalah dengan pengunjung yang lain, secara agresif satu persatu dari mereka selalu berebut mik di panggung untuk sekadar membawa satu-dua lagu.

Jangan bertanya bagaimana kualitas suara mereka, tetapi jika boleh meminjam istilah dari juri-juri acara audisi, saat membawakan lagu, maka aura dari ibu-ibu yang tak berlebihan jika disebut sebagai nenek-nenek ini keluar. Mereka seolah tampil layaknya Nia Daniati atau penyanyi asli dari lagu yang mereka bawakan.

Sejenak ikut menikmati kehangatan suasana 80-an di kafe tersebut, kita juga menjadi hafal dengan rutinitas asyik setiap biduan atau biduanita membawakan lagu. Setiap mereka menuntaskan bait pertama dari lagu yang dimainkan, pengunjung kafe yang sekaligus juga biduan atau biduanita yang tengah menunggu giliran memberikan aplaus atau siulan nakal sebagai bentuk apresiasi.

Respons yang sebenarnya juga bisa dibilang basa-basi namun seolah menjadi aturan baku di kafe ini menjadi penyemangat bagi biduan yang tengah mencoba eksis di atas panggung.

Bukannya berkurang, menjelang tengah malam suasana makin meriah. Meja-meja yang sebelumnya kosong sudah tidak ada lagi. Makin malam, kafe kecil yang dinding-dindingnya penuh aksen seni instalasi dan lukisan ini makin ramai.

Soal suasana yang eksotik, mungkin kafe semacam ini tak banyak dijumpai di Belitung. Namun jika bicara soal bagaimana kafe-kafe atau tempat nongkrong di Belitung menerapkan protokol kesehatan, nyaris semuanya serupa. Covid-19 seperti tak punya harga diri di Belitung.

Saat daerah lain ramai-ramai menerapkan PSBB atau istilah barunya direvisi menjadi PPKM, tidak demikian dengan Belitung. Peradaban di Belitung seperti sudah mampu beradaptasi dengan pandemi yang di tempat lain masih dinarasikan sebagai hal yang gawat.

Seperti di Kave Senang misalnya, puluhan orang yang nongkrong di episentrum geliat kehidupan malam di Belitung ini hanya satu dua yang tampak mengenakan masker. Peradaban di Belitung tampaknya memang benar-benar sudah bisa berdampingan dengan Covid-19.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved