Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Pasokan Cabai Rawit di Bangka Belitung Berkurang, Harganya Nyaris Tak Terjangkau

Sejumlah petani cabai rawit di Provinsi Bangka Belitung (Babel), gagal panen. Kalau pun mendapat hasil produksi, namun jumlahnya tak seberapa. Kondisi

Editor: Fery Laskari
Bangkapos.com/Sela Agustika
ILUSTRASI: Kondisi Pasar Pagi Pangkalpinang Selasa (8/12/2020) 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Sejumlah petani cabai rawit di Provinsi Bangka Belitung (Babel), gagal panen. Kalau pun mendapat hasil produksi, namun jumlahnya tak seberapa. Kondisi musim atau cuaca yang tak menentu, membuat pohon cabai  (cabe) petani banyak yang mati.

Imbasnya, harga bumbu penyedap rasa pedas itu langka di pasaran.

Otomatis harganya pun melambung tinggi dan nyaris tak terjangkau.

Di Belitung misalnya, harga cabai rawit mengalami kenaikan cukup pesat. Bumbu masak rasa pedas itu melambung tinggi, Selasa (23/2/2021) kemarin di ptasar radisional wilayah setempat. 

Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja (KUKMPTK) Kabupaten Belitung,  Selasa (23/2/2021) melakukan pengecekan harga cabai di Pasar Tradisional Tanjungpandan.

Pengecekan harga ini, menyusul harga cabai di Belitung sekitar satu pekan terakhir, terus mengalami kenaikan,

 "Kami sudah mengecek tadi, itu rata - rata harga jual mencapai Rp130.000 sampai Rp140.000 per kilogram (Kg). Tidak semua cabai mengalami kenaikan harga, hanya cabai lokal saja (cabai rawit -red)," kata Kabid Perdagangan Dinas KUKMPTK Kabupaten Belitung, HK Rita Yuliani, Selasa (23/2/2021) kemarin.

Harga cabai juga melambung di Pangkalpinang. Di sejumlah pasar di Ibukota Provinsi Bangka Belitung (Babel) ini, harga cabai rawit rata-rata Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Merespons hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Bangka Belitung, Juadi, mengatakan, fluktuasi harga cabe dipengaruhi oleh aspek ketersediaan dalam hal ini produksi dalam daerah. 

 "Petani sering kali menanam cabe mengikuti musim tanam serta ada bantuan benih dari pemerintah, sehingga seringkali produksi berlimpah. Untuk kondisi di Babel, karena provinsi ini merupakan wilayah kepulauan faktor distribusi sering menjadi kendala lebih-lebih pada musim barat yang menyebabkan gelombang tinggi dan pasokan dari luar pulau terhambat," jelas Juadi kepada Bangkapos.com, Selasa (23/2/2021) malam kemarin.

"Disatu sisi pola konsumsi masyarakat terhadap cabe sehingga tinggi, dan masyarakat masih terbiasa menggunakan cabe segar dan belum terbiasa mengkonsumsi cabe kering. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya fluktuasi harga,"katanya lagi.-- Simak kisah selengkapnya soal harga cabai, hanya di Koran Bangka Pos, edisi hari ini. (*)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved