Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tetap Semangat Berjualan Gorengan Hingga Dini Hari, Yulianto Raup Untung Lumayan

okasi terlama Yulianto berjualan adalah di depan Museum Timah, sampai-sampai orang-orang menyebut lapak gorengannya dengan sebutan Gorengan Museum.

Bangkapos.com/Widodo
Yulianto (51) penjual gorengan di Jl Kampung Melayu dekat Pasar Pagi Kota Pangkalpinang, Selasa (23/2/2021) malam. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Yulianto sibuk melayani pembeli yang memesan gorengan di lapak gorengan miliknya di Jalan Kampung Melayu kawasan Pasar Pagi Pangkalpinang, Rabu (23/02/2021) malam.   

Tangannya cekatan memasukan satu per satu gorengan pesanan ke dalam kantong plastik lalu diserahkan kepada pembeli.

Lakon ini sudah menjadi keseharian pria 51 tahun yang tinggal di Jl Tangsi tidak jauh dari tempat berjualannya ini.

Kurang lebih 18 tahun sudah Yulianto menjadi penjaja makanan ringan di kota Pangkalpinang.  

Lokasi terlama ia berjualan adalah di depan Museum Timah, sampai-sampai orang-orang menyebut lapak gorengannya dengan sebutan Gorengan Museum.  

"Sudah 18 tahun berjualan gorengan, pertama di pinggir jalan Ahmad Yani, setelahnya di depan musem timah dan sekarang jalan Tua Tunu (Kampung Melayu) menuju pasar Pagi. Baru dua tahun di sini," kata Yulianto saat ditemui Bangkapos.com, Selasa (23/2/2021) malam.

Gorengan yang dia jual mulai dari tempe, tahu, bakwan atau bala-bala, pempek, molen, bijur yang semuanya diberi harga masing-masing Rp1.000.

Kendati hanya Rp1.000 dan ukurannya lumayan besar, ternyata gorengan milik pak Yulianto ini sangat gurih renyah dan nikmat.

Yulianto sibuk melayani pembeli, sementara istrinya terlihat sibuk menghaluskan adonan untuk dicampurkan dengan bahan-bahan berupa tempe dan tahu.

Kebutuhan ekonomi yang terus meningkat, ditambah lagi dengan pandemi covid-19, mengharuskan Yulianto berjualan gorengan sejak sore pukul 04.00 WIB sampai ke Pukul 01.00 WIB.

"Soalnya sekarang kita tahu kebutuhan sehari-hari harganya naik, belum lagi masalah Covid-19 belum selesai. Kami pun harus tetap semangat berjualan sampai pukul 01.00 WIB," ungkapnya.

"Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, pukul 22.00 sampai 23.00 WIB kami sudah tutup, tapi karena sekarang lebih sepi dan bahan-bahannya mahal harus rela berjualan sampai jam segitu," tambahnya lagi.

Kendati berjualan sampai dini hari, Yulianto dan istrinya mendapatkan keuntungan bersih dari jualan gorengan rata-rata Rp200.000 per harinya.

"Pendapatan bersih mencapai Rp200.000 sudah Alhamdulillah. Saat ini hanya bisa bertahan sajalah," terangnya.

Namun, dia menceritakan, lapak atau tempat yang ia pakai untuk berjualan gorengan itu dibayar Rp 800.000 ke pemiliknya.

"Tempat ini kami sewa untuk berjualan gorengan, per bulan kami bayar Rp800.000 ke pemiliknya," sebutnya.

Yulianto menceritakan memiliki dua anak yang berusia 28 tahun dan 8 tahun masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar.

(Bangkapos.com/Widodo)

Penulis: Widodo
Editor: El Tjandring
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved