Breaking News:

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Pembukaan Investasi Miras dan Kemudian Dicabut Jokowi?

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengungkap apa sebenarnya yang terjadi di balik pembukaan investasi miras yang sempat jadi polemik beberapa waktu lalu

Editor: Dedy Qurniawan
Bangkapos.com/Resha Juhari
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Pembukaan Investasi Miras dan Kemudian Dicabut Jokowi? - Ilustrasi Kendaraan alat berat siap menggiling ribuan barang bukti ribuan botol minuman keras (miras) selundupan yang dimusnahkan di Kantor Ditpolairud Polda Kepulauan Bangka Belitung, kawasan Air Anyir, Kabupaten Bangka, Rabu (17/6/2020). 

BANGKAPOS.COM - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengungkap apa sebenarnya yang terjadi di balik pembukaan investasi miras.

Seperti diketahui, isu pembukaan investasi miras ini sempat menjadi polemik beberapa waktu terakhir.

Sampai akhirnya kemudian Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut lampiran peraturan presiden (Perpes) yang memuat ketentuan mengenai ini.

Bahlil Lahadalia pun menjelaskan awal mula usul kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membuka investasi minuman keras ( miras) atau minuman beralkohol.

Usulan pembukaan investasi miras itu kemudian dituangkan dalam lampiran peraturan tersebut dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2021-- yang kemudian dicabut Jokowi.

Bahlil menjelaskan salah satu pertimbangan investasi miras dibuka di empat provinsi, yaitu Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Papua, yakni demi kearifan lokal wilayah tersebut.

Mantan Ketum Hipmi itu menyebut, usulan salah satunya datang dari pemerintah daerah dan masyarakat.

"Salah satu pertimbangan pemikiran kenapa ini (izin investasi dibuka) untuk di beberapa provinsi itu saja karena memang di daerah itu ada kearifan lokal," ujar Bahlil dilansir dari Antara, Rabu (3/3/2021).

"Jadi dasar pertimbangannya itu adalah memperhatikan masukan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat terhadap kearifan lokal," kata dia lagi.

Bahlil menjelaskan, salah satu contohnya yakni Sopi, minuman beralkohol khas NTT. Menurut dia, minuman tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi tetapi tidak bisa didorong menjadi industri besar karena masuk kategori terlarang.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved