Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Cabai Rawit Masuk Komoditas Penyumbang Inflasi di Kota Pangkalpinang

Berdasarkan data BPS Provinsi Bangka Belitung inflasi tahun kalender 2020, Tanjungpandan berada di posisi 15 tertinggi

Bangkapos.com/Sela Agustika
Harga cabai menjelang natal dan tahun baru di Pasar Pagi Pangkalpinang naik. Saat ini harga cabai rawi bisa mencapai Rp 80.000 perkilogram, Selasa (8/12/2020). 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Berdasarkan data BPS Provinsi Bangka Belitung inflasi tahun kalender 2020, Tanjungpandan berada di posisi 15 tertinggi sedangkan Kota Pangkalpinang merupakan kota inflasi terendah dari 24 kota inflasi di Sumatera.

Nilai infalasi di Pangkalpinang 0, 52 dan nilai inflasi Tanjungpandan 2,11.

Penyebab inflasi tersebut karena tingginya beberapa harga komoditas di Babel, seperti ikan kembung, daging ayam ras, rokok kretek filter, telur ayam ras, cabai rawit dan komoditas lainya yang berjumlah 20 komoditas andil dalam inflasi.

Kepala BPS Provinsi Bangka Belitung, Dwi Retno, mengatakan, berdasarkan survey biaya hidup terdapat 10 komuditas dengan bobot tertinggi di Pangkalpinang.

"Seperti perubahan harga menjadi cepat sekali menaikan inflasi karena memang misalnya di Pangkalpinang saja bobot tertinggi, seperti kontrak rumah, bensi, tarif listrik, beras, mobil, biaya pulsa ponsel, rokok kretek filter, angkutan udara, sepeda motor, dan upah pembantu RT," jelas Dwi dalam kegiatan high level meeting TPID Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Rabu (3/3/2022)  bersama gubernur, di ruang Pasirpadi kantor gubernur.

Dia menjelaskan permintaan barang dan jasa masih rendah di Kota Pangkalpinang sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

"Konsumsi permintaan barang dan jasa masih rendah, sehingga konsumsi masih rendah, mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dengan inflasi perlu mendorong agar tingkat konsumsi masyarakat bisa ditingkatkan. Artinya Pangkalpinang inflasi sangat rendah sementara Tanjungpandan lebih baik," kata Dwi. 

Sementara terkait cabai rawit yang masuk dalam 20 komuditas dengan andil inflasi terbesar di Kota Pangkalpinang, dipengaruhi karena kebutuhan cabai yang banyak didatangkan dari luar Pulau Bangka.

"Mereka para petani tidak melihat kapan saat naman dan memanen, kemudian kapan kebutuhan puncak dan tidaknya. Sehingga perlu mengatur pendistribusian itu, karena termasuk menyesuaikan dengan kondisi cuaca yang banyak mengikuti musim tanam," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Bangka Belitung, Juaidi.

Dia menegaskan, perlu adanya keterlibatan BUMD pangan agar bisa mengontrol serta mendistribusi agar bisa menahan laju dan kebutuhan bahan pokok di Bangka Belitung.

Halaman
12
Penulis: Riki Pratama
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved