Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Pemprov Bangka Belitung Bakal Batasi Jumlah Luas Perkebunan Sawit, Ini Penyebabnya

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung akan membatasi luasan perkebunan sawit di Bangka Belitung. Tujuannya agar dapat membatasi ruang komoditas

Bangkapos.com/Riki Pratama
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Provinsi Bangka Belitung, Juaidi. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Pemerintah Provinsi Bangka Belitung akan membatasi luasan perkebunan sawit di Bangka Belitung. Tujuannya agar dapat membatasi ruang komoditas lain yang menjadi unggulan di Babel.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Provinsi Bangka Belitung, Juaidi, mengatakan, berdasarkan luas tata ruang, lahan untuk pertanian di Bangka Belitung seluas 970.000 hektar. 

"Kemudian berdasarkan data yang kita himpun untuk luasan kebun punya perusahan sekitar 170.000 hektar, data itu berdasarkan berdasarkan IUP dan HGU. Belum dari kebun masyarakat hampir 90 ribu hektar, yang punya izin, izin itu artinya luasanya lebih dari 5 hektar sampai 25 hektar, mereka harus punya surat tanda budidaya, kalau di bawah lima hektar tidak perlu cukup diketahui oleh desa setempat," jelas Juaidi kepada Bangkapos.com, Selasa (9/3/2021).

Juaidi, menjelaskan dinas pertanian terus menghimpun dan menghitung jumlah lahan sawit di Provinsi Bangka Belitung.

"Kita sulit untuk menghimpun apalagi yang dilakukan masyarakat ada di dalam hutan, belum di kawasan hutan. Kita ingin lakukan pemetaan agar dapat angka berapa luas riil perkebunan sawit di Babel ini. Karena kita perlu memperhatikan lingkungan, untuk memberikan peluang terhadap komuditi selain sawit jangan sampai didominasi sawit saja,"kata Juaidi.

Ia menegaskan apabila telah dilakukan pendataan berapa jumlah perkebunan sawit di Bangka Belitung nantinya baru bisa ditentukan apakah sudah cukup untuk pengembangan perkebun sawit di Bangka Belitung.

"Kalau sudah dapat data itu kita memberika rekomendasi ke pimpinan bahwa Babel sudah cukup untuk sawit dalam tata ruang dibatasi luasan sektor pertanian hanya 970.000 hetar. Untuk sektor pertanian ada perkebunan, pangan, hortikultura dan untuk perkebunan sekitar 350.00 hektar ini dilakukan verifikasi luasan pertanian yang paling sulit mendata lahan kepemilikan masyarakat," jelas Juaidi.

Lebih jauh, Juaidi juga menyampaikan terkait jumlah pabrik sawit yang berada di Bangka Belitung saat ini berjumlah 14 pabrik semuanya, bekerja menampung atau membeli hasil buah sawit para petani.

"Petani kita dorong agar petani sawit bermitra untuk mendapatkan pendampingan dari perusahaan sehingga produktivitas dan mutu bagus, bermitra didampingi dan di cek oleh perusahaan tersebut," katanya.

Tidak hanya itu, Juaidi, juga menyampaikan soal luas lahan di Babel saat ini jangan sampai dimonopoli untuk perkebunan sawit saja, menurutnya perlu adanya pengaturan untuk mengatur luasan lahan sawit di Bangka Belitung.

"Kita harus menyadari bahwa Bangka Belitung provinsi kepulauan, kalau wilayah pulau harus kita perhatikan keseimbangan alamnya antara vegetarian tertentu jangan sampai di monopoli satu komoditi saja. Kita memberikan peluang ke komuditi unggalan kita seperti lada, jangan sampai tidak ada tempat lagi dengan banyaknya perkebunan sawit," ungkap Juaidi.

Dia mengakui, bahwa harga buah sawit saat ini sedang bagus-bagusnya banyak petani terbantu dengan harga saat ini.

"Oke harga bagus, sehingga petani terbantu dengan harga buah sawit di atas 2 ribu lebih, artinya cukup lumayan. Tetapi kita harus berfikir bahwa kita punya komuditi unggulan lainya apabila nanti sudah cukup untuk sawit maka akan dilakukan moratorium untuk investasi sawit, kecuali pabriknya untuk mengakomodir petani dari kebun sawit masyarakat," tegasnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved