Horizzon

Episode N439K

Hadirnya vaksin adalah penggalan kisah yang lama menjadi latar dari kisah Covid-19.

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

SEPERTI halnya sinetron kejar tayang yang selalu punya puzzle cerita baru untuk tetap menjaga hubungan emosional dengan penonton setianya, Covid-19 juga selalu memiliki kisah baru.

Sama halnya dengan sinetron yang terkadang lebai dan tidak masuk akal, cerita baru yang hadir bersama dengan Covid-19 ini juga terkadang terasa aneh dan bahkan over dosis.

Namun ibarat sudah kecanduan, sekali mengikuti kisah dari tayangan sinetron, maka tayangan berikutnya menjadi hal wajib untuk diikuti. Padahal sesungguhnya kelanjutan dari kisah sinetron mudah sekali ditebak.

Tokoh protagonis akan selalu tampak teraniaya meski tidak sampai fatal, sementara tokoh antagonisnya tampak selalu diuntungkan. Kemelut protagonis dan antagonis inilah yang menjadi candu dan mengaduk-aduk emosi penontonnya hingga setia sampai ribuan episode.

Pun demikian dengan Covid-19 yang sekarang tengah menguasai rating di semua platform media. Kisah-kisah baru yang hadir bersamanya seolah memaksa kita semua untuk menempatkan Covid-19 menjadi sesuatu yang penting untuk kita ikuti.

Saat vaksin muncul, kita sempat berpikir bahwa kisah dari Covid-19 ini akan segera berakhir dan peradaban manusia akan kembali normal. Namun seperti menikmati tayangan sinetron, kisah baru muncul sehingga pandemi ini tampaknya masih akan sangat panjang dan melelahkan.

Hadirnya vaksin adalah penggalan kisah yang lama menjadi latar dari kisah Covid-19. Belum ditemukannya obat atas penyakit ini menjadikan vaksin menjadi isu besar yang sekaligus menjadi satu-satunya harapan.

Belum selesai, cerita soal vaksin ini masih ada bumbu ketersediaan vaksin tak seimbang dengan kebutuhan dunia. Ditambah dengan latar utama kisah covid yang tak jauh dari bayangan kematian, kecemasan, dan ketakutan mengakibatkan rumus dasar keseimbangan harga harus direvisi.

Kecemasan pasar menjadi variabel pemberat sehingga titik ekuilibrium atau keseimbangan harga tidak membentuk kurva normal, melainkan membentuk garis statis yang ditentukan oleh variabel suplai.

Syukurlah, meski harus berulang kali melakukan refocusing anggaran, kita akhirnya memperoleh prioritas memperoleh vaksin. Dan lantaran vaksin masih diyakini sebagai satu-satunya 'escape' dari pandemi ini, kita juga melihat bagaimana di antara kita mencoba peluang untuk memperoleh vaksinasi di kesempatan pertama.

Saat tema vaksin sedikit bulat, di mana polemik soal percaya dan tidak percaya kepada vaksin mereda, kisah baru justru muncul dan mereduksi kisah sebelumnya. Kisah baru tersebut berjudul masa kekebalan yang ditimbulkan vaksin hanya bertahan maksimal satu tahun.

Reduksi ini masih bisa terkelola dengan mengangkat cerita bagaimana kita berkomitmen menyelesaikan proses vaksinasi dua tahap segera kelar sehingga sebelum masa kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin kedaluwarsa, maka herd immunity sudah terbentuk.

Sayangnya, tidak lama berselang, muncul lagi penggalan kisah yang tidak kalah menguras dan mengaduk-aduk emosi kita semua yang menyaksikan sekaligus menjadi pemeran dari drama corona ini. Kisah tersebut adalah varian baru B.1.1.7 dan utamanya varian baru N439K yang diklaim tidak bisa dicegah dengan jenis vaksin yang sekarang tengah diikhtiarkan.

Varian baru Covid-19 yang diberi sandi N439K ini sudah ditemukan di 30 negara dan di Indonesia sudah terdeteksi sejak November 2020, atau jauh sebelum isu vaksin. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut bahwa N439K lebih "pintar" dari virus corona yang ada sebelumnya.

Varian N439K ini disebut lebih pintar lantaran ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi. Satu lagi, varian N439K yang pertama kali terdeteksi di Skotlandia ini dikatakan lebih mudah menular dibanding varian sebelumnya.

Kembali ke sinetron, di mana sering kita melihat deja vu atau kisah yang berulang-ulang dalam setiap episode yang ditayangkan. Episode N439K adalah deja vu di mana kita seolah kembali pada situasi bahwa pandemi ini masih akan sangat panjang dan tiada akhir.

Vaksin yang tengah berjalan belum lagi kelar di tahap pertama, kita harus menghadapi kenyataan ternyata apa yang dimasukkan ke dalam tubuh kita sama sekali tak berdaya menghadapi varian N439K yang kebal vaksin.

Belum cukup, jika saat ini muncul N439K, besok atau lusa barangkali muncul varian lain yang barangkali lebih berbahaya lagi. Dan sejujurnya, kita semua tidak pernah tahu apa lagi yang akan terjadi dengan Covid-19 ini.

Seperti halnya kisah di sinetron kejar tayang, intrik baru meskipun terkesan lebai dan tak masuk akal bisa saja disematkan sutradara ke tokoh antagonis agar sinetron tersebut mampu menjaga ratingnya. Sekali lagi jika bicara soal sinetron, rating berarti uang yang mengalir dari munculnya iklan.

Lalu bagaimana dengan Covid-19? Kita hanya ingat bahwa saat bicara soal vaksin, ada sebuah debat yang kebetulan tak pernah ada kata sepakat. Kita ingat pernah punya pertanyaan besar, "Jika memang corona ini sudah bermutasi menjadi ribuan varian, apakah satu jenis vaksin mampu mengatasinya?"

Lalu apa yang bisa kita lakukan saat ini? Menuntaskan pertanyaan adalah sebuah jawaban untuk keluar dari pandemi. Puzzle kecil dari kisah yang pernah kita alami layak untuk kita buka kembali. Satu di antaranya adalah soal audit kematian pasien Covid-19.

Audit kematian ini pernah disampaikan oleh anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Covid-19 DIY, dr Riris Andono Ahmad. Agustus 2020, Riris Andono mewacanakan untuk dilakukan audit kematian terhadap kasus kematian yang dikaitkan dengan Covid-19.

Namun lagi-lagi wacana ini senyap dan kita tahu, teror tentang angka kematian yang terkait dengan Covid-19 terus terjadi tanpa kita pernah tahu yang sebenarnya. Situasi inilah yang mengakibatkan kita terus terjebak pada skenario utama dari drama corona ini yang latar ceritanya adalah ketakutan dan kematian.

Kita bahkan seperti tak kuasa untuk menegakkan satu fakta menjadi pemahaman, bahwa banyak di antara kita atau setidaknya orang-orang dekat kita yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19 dalam keadaan baik-baik saja. Banyak di antara kita atau orang-orang di sekitar kita terpapar virus ini kondisinya tak lebih dari layaknya orang menderita flu. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved