Breaking News:

Tribunners

Eksistensi Petani di Tengah Pandemi

Di saat banyak sektor yang terpukul karena pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan

Editor: suhendri
Bangkapos.com/Widodo
Serudin, petani cabai asal Balun Ijuk saat memetik tanaman cabai rawit di sekitar Balun Ijuk, Rabu (24/2/2021) 

Oleh: Sri Hapsari M.H - Fungsional Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PANDEMI Covid-19 sudah berlangsung selama lebih dari setahun. Tidak dapat dimungkiri bahwa pandemi sangat berdampak pada tingkat perekonomian masyarakat. Pemberlakuan pembatasan aktivitas di luar rumah berdampak menurunnya permintaan masyarakat di sektor jasa seperti menginap di hotel, mengunjungi rumah makan, mengunjungi tempat hiburan, dan melakukan perjalanan.

Selain itu, berdampak pula pada menurunnya tingkat pendapatan masyarakat. Dari data yang dirilis oleh BPS, pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung tahun 2020 terkontraksi 2,30 persen dibandingkan tahun 2019.

Di saat banyak sektor yang terpukul karena pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di tengah kondisi perekonomian yang tidak stabil. Sektor pertanian mampu tetap tumbuh dengan laju pertumbuhan 8,31 persen. Pertumbuhan tersebut adalah yang terbesar kedua setelah sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh 15,46 persen.

Sektor pertanian juga menjadi kontributor perekonomian terbesar pada tahun 2020 dengan kontribusi sebesar 20,47 persen. Kondisi ini menggeser peran sektor industri pengolahan yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir menjadi kontributor terbesar di Bangka Belitung.

Kontribusi dan laju pertumbuhan sektor pertanian yang meningkat di antaranya karena produk pertanian seperti tanaman pangan, sayur-sayuran, hortikultura, dan hasil ternak dalam kondisi apa pun, termasuk di masa pandemi tidak banyak berdampak pada permintaannya karena merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Terdapat kecenderungan permintaan akan bahan pangan meningkat dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Upaya membatasi dan adanya keterbatasan aktivitas di luar rumah, kondisi ini menyebabkan adanya transisi untuk mengonsumsi makanan rumahan. Adanya kekhawatiran makanan dari luar terpapar virus menjadi alasan untuk beralih ke makanan rumahan. Makin maraknya informasi pola makan sehat di media sosial turut memengaruhi kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang lebih bergizi.

Bagaimana kondisi pertanian di Bangka Belitung? Di masa pandemi, dengan adanya pengurangan tenaga kerja di beberapa sektor ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, sektor pertanian menjadi sektor penampung tenaga kerja. BPS mencatat pada Februari 2020, 26,89 persen penduduk Bangka Belitung bekerja di sektor pertanian. Sementara pada Agustus 2020 meningkat menjadi 32,50 persen.

Dari tahun ke tahun pendapatan petani Bangka Belitung menunjukkan tren peningkatan. Hal ini tergambar dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus mengalami peningkatan dari bulan Juli 2020 hingga Februari 2021. Pada bulan Juni 2020, NTP tercatat sebesar 96,11, di bulan Juli 2020 menjadi pada 98,94. Bahkan di bulan Agustus 2020 nilainya di atas 100 yaitu sebesar 102,53.

Kondisi tersebut terus mengalami peningkatan hingga bulan Februari 2021 dengan NTP sebesar 117,28. NTP di atas 100 menandakan bahwa pendapatan dari hasil produksi pertaniannya lebih besar dari biaya konsumsinya (konsumsi untuk proses produksi maupun konsumsi untuk keperluan rumah tangga).

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved