Breaking News:

Tribunners

Mengingatkan Kembali Pentingnya Peran Hutan

Hutan yang memiliki banyak jenis tumbuhan merupakan pemasok oksigen paling besar di permukaan bumi.

(Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)
Hutan Pinus Mangunan 

Oleh: Jamik Safitri, S.S.T. - Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

HARI Hutan Sedunia adalah hari untuk memperingati pentingnya hutan bagi bumi. Hari Hutan Sedunia diperingati setiap tanggal 21 Maret. Sebelum menjadi Hari Hutan Sedunia, peringatan ini bernama World Forestry Day yang berlangsung dari tahun 2007 hingga 2012 dan diselenggarakan oleh Center for International Forestry Research (CIFOR). Mulai tahun 2013, namanya berubah menjadi Hari Hutan Sedunia yang peringatannya dirayakan oleh seluruh dunia dengan tema yang berbeda setiap tahun.

Peringatan Hari Hutan Sedunia diharapkan tidak hanya menjadi peringatan belaka tanpa arti. Hari Hutan Sedunia diharapkan menjadi pengingat bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Mengingatkan kembali akan pentingnya peran hutan dan kondisi hutan kita saat ini agar menjaga keberadaannya.

Peran hutan salah satunya sebagai paru-paru dunia, hutan yang memiliki banyak jenis tumbuhan merupakan pemasok oksigen paling besar di permukaan bumi. Selain itu, hutan juga menyerap karbon dioksida yang tinggi untuk menyerap polusi.

Hutan sebagai sarana makhluk hidup lainnya, beraneka ragam hewan dan tumbuhan akan kehilangan tempat tinggal ketika hutan makin tergerus. Hal yang menjadi ancaman adalah menipisnya keberadaan hutan akan berdampak pada bencana.

Tentu pentingnya keberadaan sumber daya hutan sudah banyak dipahami oleh pemerintah maupun masyarakat. Namun, pertambahan jumlah penduduk terus menggerus keberadaan hutan. Pemenuhan kebutuhan sandang, papan, dan perumahan serta keanekaragaman fungsi hutan terus meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam lima tahun terakhir, Indonesia mengalami deforestasi mencapai lebih dari 3 juta hektare. Deforestasi yang merupakan peristiwa hilangnya hutan memiliki dampak yang sangat buruk bagi tanah. Hilangnya hutan mengakibatkan tidak dapatnya air meresap ke tanah. Air hujan yang turun mengalir di permukaan akan menyebabkan erosi.

Selain itu, efek samping dari terjadinya erosi adalah kehilangan kesuburan tanah akibat pencucian tanah oleh air hujan yang terus-menerus, banjir akibat tanah yang tidak dapat meresap air, hingga tanah longsor, bencana pun tak bisa terhindarkan.

Sayangnya deforestasi yang tinggi tidak diimbangi dengan reboisasi. Hal tersebut terlihat dari luas hutan Indonesia yang awalnya sekitar 144,3 juta hektare (Tata Guna Hutan Kesepakatan, 1984) menyusut menjadi 120,35 hektare di tahun 2019. Kini luas hutan Indonesia hanya sebesar 64,11 persen dari luas daratan Indonesia.

Penyebab terjadinya deforestasi lahan, di antaranya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, terjadinya kebakaran hutan, dan illegal logging atau produksi kayu yang berasal dari konsesi HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Mudahnya perizinan Hak Pengusahaan Hutan serta pembukaan hutan besar-besaran membuat deforestasi tak terhindarkan.

Meski sudah tertulis aturan terkait pengusahaan hutan serta pembukaan lahan perkebunan, akan tetapi masih banyak pihak yang mencari untung dan melanggar. Pada tahun 2016 tercatat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membawa 30 terdakwa dalam kasus dugaan penyalahgunaan kekuasaan atau penyuapan dalam penerbitan izin kehutanan.

Selain itu, hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan secara besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia. Kebanyakan hutan yang terbakar tidak langsung dihijaukan kembali, tetapi beralih fungsi menjadi lahan bukan hutan.

Kondisi ini tentu perlu tindakan pemerintah yang lebih tegas serta awas dengan peraturan terkait penjagaan hutan. Hal ini guna menekan makin hilangnya hutan di Indonesia yang merupakan paru-paru dunia. Menekan kelompok-kelompok yang hanya mengambil keuntungan tanpa menjaga keberadaan hutan. Kebijakan pemerintah juga harus didukung seluruh elemen tanpa pandang bulu.

Hutan tak sekadar menopang hidup kita sebagai manusia, tetapi juga keseimbangan tumbuhan dan hewan di dalamnya. Hutan tak sekadar untuk kita hidup saat ini saja, tetapi juga untuk anak keturunan kita di masa mendatang. Selamat Hari Hutan Sedunia, mari bersama menjaga paru-paru kehidupan kita. (*)

Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved