Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Hindari Depresi Anak di Tengah Pandemi, Kak Seto Minta Orangtua Perankan Diri Sebagai Sahabat Anak

Psikolog anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi membahas pengoptimalan belajar daring

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
YouTube@ BNPB Indonesia
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi di Kantor BNPB, Sabtu (25/4/2020). 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Psikolog anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi membahas pengoptimalan belajar daring di tengah pandemi Covid-19 hingga dampak psikolog pada siswa.

"Kita tahu, kemampuan menatap layar (laptop atau gadget) tentu ada batasnya, misalnya anak usia TK tidak boleh lebih dari satu jam, anak usia SD tidak boleh lebih dari satu setengah jam dan anak usia SMP dan SMA tidak boleh lebih dari dua jam.

Kalau terlalu berlebihan, akan mudah pusing, hal ini kalau tidak dipahami guru dan orangtua, anak-anak akan mudah tertekan, depresi dan mudah mengalami gangguan jiwa," jelas pria yang kerap disapa Kak Seto ini, Minggu (21/3/2021).

Ia membeberkan, berdasarkan catatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukan 13 persen anak-anak Indonesia mengalami depresi.

"Itu salah satunya akibat dari belajar daring yang tidak ramah anak, tidak menyenangkan, tidak dalam suasana bermain," sebut Kak Seto.

Menyikapi hal ini, ia menyarankan penting sekali peran orangtua untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada anak-anak.

"Intinya orangtua harus memposisikan diri sebagai sahabat anak, sebagai teman anak, bukan sebagai bos atau komando, yang main perintah saja.

Kedua, kita ikuti apa yang menjadi surat edaran menteri pendidikan nomor 4 tahun 2020 yang intinya menegaskan belajar secara daring, mohon dikaitkan dengan keterampilan hidup, harus dikaitkan dengan kegiatan yang bermakna bagi siswa," jelas Kak Seto.

Sehingga ia meminta agar tidak fokus untuk penuntasan kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan.

"Menteri juga sangat memahami keadaan anak-anak kita, pulsa habis, signal hilang, kuota habis, satu handphone dipakai bertiga dengan kakaknya. Jadi mohon ini tidak usah menjadi tuntutan kurikulum," saran Kak Seto.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
 

--

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved