Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Seminggu Terakhir Harga Lada di Bangka Belitung Mulai Naik Rp 84.500 Per Kilogram

Dengan harga yang naik tersebut, Yanto masih mengatakan kurang, apabila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam lada.

Penulis: Riki Pratama | Editor: khamelia
IST/Yanto
Yanto Purnomo Petani Lada Asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, saat berfoto di kebun lada miliknya, foto diambil beberapa waktu lalu. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Petani lada asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Yanto Purnomo mengatakan kenaikan harga lada telah terjadi satu Minggu ini dengan harga Rp 84.500 per kilogramnya.

Ia mengatakan, harga tersebut merupakan harga di tingkat petani yang menjual ke para pengepul.

"Harga naiknya sudah seminggu ini, bersyukurlah, harganya Rp 84.500 per kilogramnya dari pada harga sebelumnya hanya Rp 58.000 hingga Rp 60.000 per kilogramnya," kata Yanto kepada Bangkapos.com, Kamis (25/3/2021).

Dengan harga yang naik tersebut, Yanto masih mengatakan kurang, apabila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam lada.

"Kalau harga dengan biaya tanamnya kurang lah, soalnya, saat ini sahang atau lada banyak mati dan banyak pakai herbisida. Petani saat ini cuman bisa bertahan karena sahang bukan seperti dahulu, sahang tidak banyak mati. Tanam seribu batang bisa menghasilkan 1 ton, kalau sekarang tanam seribu pas panen masih 300 batang, yang lain sudah mati, itu lah kendala maka petani lada berkurang," katanya.

Yanto mengatakan saat ini petani di Desa Jeriji juga selain menanam lada banyak beralih menanam lainnya untuk dapat bertahan dari hasil panen tanaman lainya.

"Petani lada paling 40 persen, dan 40 persen mereka nanam sawit 20 persenya tanam batang karet, karena kalau cuman bertahan di lada hanya satu tahun sekali panenya, abis pasang pupuk delapan bulan baru panen lagi," katanya.

Direktur Kantor Pemasaran Bersama (KPB) Lada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Prof. Saparudin, mengatakan untuk lada asal Babel saat ini masih terkendala daya saing dengan lada dari negara lain.

"Kendala lain, yang kami amati adalah, untuk daya saing, karena dengan lada dari Vietnam itu. Karena pasar ekspor saat ini, tujuanya, masih di dominasi 10 negara, di antaranya, Singapura, Malaysia, Amerika, Belanda, China, bayangkan ini persoalan, dari 10 negara itu, tujuan ekspor itu 70 persen justru Babel terbesar ke Vietnam," katanya

Menurutnya, kondisi ini mensinyalir lada yang diekspor dari Babel ke Vietnam dicampur, kemudian kembali lagi diekspor oleh Vietnam.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved