Breaking News:

Tribunners

Literasi Numerasi di Masa Pandemi

Kemampuan literasi numerasi dimaksudkan untuk menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti grafik, tabel, bagan

Freepik
Ilustrasi 

Oleh: Adi Pariansyah, S.Pd. - Guru Matematika SMK Negeri 1 Kelapa

GENAP satu tahun Indonesia dilanda wabah Covid-19, tak banyak perubahan yang terjadi selama satu tahun ke belakang selain adanya kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan. Ekonomi, sosial, budaya, pendidikan adalah sederet aspek kehidupan yang terdampak Covid-19.

Pendidikan, utamanya, merupakan sarana bagi segenap generasi bangsa untuk terbebas dari kebodohan dan hal-hal yang ditimbulkan dari kebodohan tersebut seperti kemiskinan, keterbelengguan, pola pikir sempit, dan lain sebagainya kini menjadi hal yang sepertinya sulit untuk diperoleh di masa pandemi Covid-19.

Pembelajaran yang dibatasi oleh keadaan darurat Covid-19 membuat para pelaku pendidikan awas dan mawas dalam menyelenggarakan pembelajaran baik secara luring maupun daring.

Sejak Covid-19 merebak di Tanah Air, sistem pendidikan berubah drastis. Mulai dari metode dan alat pembelajaran, waktu dan moda belajar, materi dan strategi hingga teknik belajar yang sudah pasti, semua yang tersebut di atas memerlukan kreasi dan inovasi dalam pengemasannya sehingga tujuan dari pembelajaran itu sendiri dapat tercapai dan menghasilkan perilaku yang dapat dikerjakan oleh siswa pada tingkat kompetensi tertentu.

Salah satu mata pelajaran yang terdampak Covid-19 ialah matematika. Sebelum masa pandemi terjadi, pelajaran matematika sudah menjadi momok menakutkan bagi sejumlah peserta didik di berbagai tingkat pendidikan. Banyak sekali meme kocak mengenai pelajaran matematika dapat ditemukan di media sosial.

Contohnya, "Gue selalu ngerasa jadi ilmuwan saat ulangan Matematika, menciptakan rumus baru", "Matematika itu mudah tapi semuanya berubah saat para huruf dan simbol datang", "Matematika, makin tekun makin tidak karuan", "Dapat nilai 100 ujian Matematika? Mimpi", "Peraturan dalam Matematika, kalau lu ngerjainnya gampang berarti jawaban lu salah" dan masih banyak lagi.

Tak heran, matematika kerap dianalogikan sebagai musuh yang harus diperangi habis-habisan sampai titik nadir terakhir. Apalagi pada masa pandemi seperti ini, dengan sistem pembelajaran yang banyak berubah, menjadikan pelajaran matematika makin sulit untuk dipahami oleh peserta didik. Para guru memutar otak untuk terus belajar dan berinovasi dalam penyampaian materi sesederhana mungkin agar mudah diserap dan ditangkap oleh para peserta didik.

Topik literasi sedang hot diperbincangkan di dunia pendidikan belakangan ini. Ya, keterampilan literasi membaca dan literasi numerasi menjadi kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk bersaing secara global di abad-21 ini, terkhusus para peserta didik sekolah menengah kejuruan yang diharapkan siap kerja setelah lulus sekolah. Para peserta didik yang kerap disebut generasi Z (anak dengan tahun lahir antara 1995-2010) ini memerlukan bekal kemampuan dan keterampilan menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang terkait dengan matematika dasar.

Kemampuan literasi numerasi dimaksudkan untuk menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti grafik, tabel, bagan dan sebagainya lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

Seperti disampaikan seorang jurnalis, Bruce Horovitz, yang mengenalkan istilah generasi Z menyebutkan bahwa anak-anak generasi Z merupakan generasi yang begitu akrab dengan teknologi dan informasi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget dan seluruh kecanggihan yang ada di dalamnya. Salah satu yang marak ditemukan akhir-akhir ini di internet maupun media sosial ialah infografik.

Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, infografik adalah representasi visual informasi, data atau ilmu pengetahuan secara grafis. Media informasi ini disajikan dalam bentuk teks dan angka dipadukan dengan beberapa elemen visual seperti gambar, ilustrasi, grafik dan tipografi serta dikemas dalam berbagai paduan warna desain yang menarik. Melalui infografik, para pembaca dapat menerima informasi rumit menjadi enak dipandang.

Di sinilah penulis sebagai guru matematika memanfaatkan media infografis ini sebagai sumber belajar peserta didik dalam mengasah kemampuan literasi numerasi. Mulai dari infografis tentang penyebaran Covid-19 yang disajikan dalam bentuk angka dan grafik hingga pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang disajikan dalam bentuk tabel dan persen digunakan untuk melatih kemampuan literasi siswa menganalisis dan menyimpulkan sajian data yang terdapat dalam infografis tersebut. Peserta didik dapat melihat infografis melalui android atau ponsel pintar (smartphone) mereka masing-masing.

Selain belajar matematika dan melatih kemampuan literasi numerasi peserta didik dalam menerjemahkan simbol dan angka, tentu saja kelebihannya ialah peserta didik tidak lekas bosan membaca karena terdapat paduan warna yang menarik secara visual dan tentu saja data yang disajikan adalah sederhana namun memerlukan ketelitian dalam menganalisis informasi yang disajikan tersebut. Strategi pembelajaran ini diterapkan terhadap peserta didik dalam berbagai level kelas.

Pada akhirnya, di masa pandemi yang dirasa begitu berat dan banyak tantangan, dunia pendidikan tidak boleh mengalami kemerosotan justru dalam setiap tantangan dan rintangan, seluruh pendidik harus makin kreatif menemukan strategi dalam meningkatkan minat dan ketertarikan peserta didik dalam literasi numerasi. (*)

Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved