Breaking News:

Tribunners

Menuju Pembelajaran Tatap Muka Lagi

Tak dimungkiri akhir-akhir ini aspirasi kerinduan PTM menggema lagi. Guru, siswa, dan orang tua sangat menginginkan PTM kembali diaktifkan

Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Simulasi pembelajaran tatap muka di SMPN 1 Kota Pangkalpinang, Senin (22/3/2021) 

Oleh: Kurniawan Adi Santoso - Guru SDN Sidorejo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan semua sekolah sudah melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka mulai Juli 2021. Ini merupakan wacana positif yang patut didukung. Maka, supaya nanti pembelajaran tatap muka (PTM) bisa dilaksanakan dengan baik dan lancar harus direncanakan dengan detail. Apa dan bagaimana rencana pembelajaran tatap muka tersebut?

Tak dimungkiri akhir-akhir ini aspirasi kerinduan PTM menggema lagi. Guru, siswa, dan orang tua sangat menginginkan PTM kembali diaktifkan. PTM dianggap sebagai solusi atas kebosanan anak-anak dalam belajar daring di rumah.

Hal itu, setidaknya, ditunjukkan dari sejumlah hasil survei yang ada selama ini. Misalnya, survei dari Unicef (2020) yang menyebutkan, 66 persen siswa mengaku tak nyaman belajar di rumah. Selain itu, hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2020 menyampaikan bahwa siswa mulai bosan belajar daring.

Selain itu, Mendikbud Nadiem Makarim sendiri menyatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama satu tahun ini berpotensi menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan. Risiko siswa mengalami putus sekolah juga akan meningkat karena anak terpaksa membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi. Tak hanya itu saja, dampak lainnya ialah adanya penurunan capaian belajar, kekerasan kepada anak, dan risiko eksternal lainnya. (Kompas.com, 19/03/2021).

Karena itu, untuk segera merealisasikan PTM, kini Kemendikbud tengah mengebut program vaksinasi Covid-19 bagi lima juta pendidik dan tenaga pendidik. Vaksinasi guru ditargetkan selesai hingga akhir Juni. Dengan demikian, pada tahun ajaran baru 2021/2022 atau pada minggu kedua dan ketiga Juli, pembelajaran dapat dilakukan secara tatap muka.

Sebenarnya persiapan untuk mendukung pelaksanaan PTM, di antaranya protokol kesehatan, sudah lama dilakukan sekolah-sekolah. Namun, harapan tinggal harapan. Tak meredanya Covid-19 membuat PTM tak pernah bisa diwujudkan.
Tentu ketika Covid-19 masih terus menghajar, PTM belum sepenuhnya aman. Masih ada risiko-risiko yang harus dihadapi. Masih mungkin menimbulkan klaster baru. Masih mungkin dunia pendidikan menyumbang jumlah kasus Covid-19. Hanya, risiko-risiko itu bisa diminimalkan atau dihilangkan jika hal-hal yang memungkinkan Covid-19 menyerang bisa diatasi.

Yang perlu disiapkan

Jadi, memang sebelum sistem PTM diberlakukan lagi, keamanan dan kenyamanan belajar mengajar harus dipersiapkan lebih dahulu. Hanya masalahnya, apakah pihak sekolah atau madrasah telah merencanakan PTM secara detail? Jika belum, maka tiga hal di bawah ini perlu disiapkan.

Pertama, sosialisasi rencana PTM antara pihak sekolah/madrasah, guru, siswa, dan orang tua. Sosialisasi ini bersifat penting, mengingat belum banyak siswa atau orang tua yang mengerti akan rencana PTM pada Juli mendatang. Sosialisasi dapat dilaksanakan secara daring atau luring. Tentu saja, jika sosialisasi dilaksanakan secara luring di sekolah, maka perlu diterapkan protokol kesehatan yang ketat.
Di dalam acara sosialisasi itu, pihak sekolah/madrasah dapat melakukan koordinasi dengan orang tua perihal pembelajaran daring yang diikuti anak-anaknya di rumah. Sebagai contoh, ada anak yang tidak memiliki laptop atau gawai, maka anak tersebut tidak bisa mengikuti pembelajaran daring. Solusi bagi anak tersebut ialah PTM di sekolah. Atau, pihak guru melakukan kegiatan home visit ke rumah anak tersebut.

Halaman
12
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved