Breaking News:

Babel Merawat Kebhinekaan

Sejarah Semboyan Tongin Fan Ngin Jit Jong, Cerminan Kebhinekaan di Bangka Belitung

Harmonisasi antara budaya Melayu dan Cina di Bangka Belitung memang sangat kental, berjalan dengan seimbang, rukun di Negeri Serumpun Sebalai.

Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian dalam Live Bersama Bangka Pos di Festival Ceng Beng Babel Merawat Kebhinekaan di Pemakaman Sentosa Kota Pangkalpinang, Sabtu (4/3/2021). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Harmonisasi antara budaya Melayu dan Cina di Bangka Belitung memang sangat kental, berjalan dengan seimbang, rukun dan hidup diantara masyarakat Negeri Serumpun Sebalai.

Apalagi semboyan Tongin Fan Ngin Jit Jong di Bangka Belitung sudah tidak asing lagi terdengar.

Sejarah semboyan cerminan erat kebhinekaan itu terus berkembang sehingga tidak ada perbedaan antara kedua etnis tersebut.

Namun ada beberapa yang masih asing dengan semboyan Tongin Fan Ngin Jit Jong di Bangka Belitung ini, sejarah hingga sebutanya.

Menurut Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian dalam Live Bersama Bangka Pos di Festival Ceng Beng Babel Merawat Kebhinekaan, mengatakan mulanya orang-orang Tionghoa datang ke Bangka sekitar tahun 1710 masehi itu sengaja didatangkan oleh Sultan Muhamad Manshur Inlag, sebab sudah menandatangani perdagangan Timah dengan VOC.

Ada target sendiri pertahunnya yang harus dijual ke VOC, untuk memenuhi penandatangan kontrak itu Sultan mendatangkan orang-orang Tionghoa dari Vietnam, Laos, Kamboja, Semenajung Tanah Malaka.

"Nah mereka adalah orang-orang Tionghoa yang memiliki multy talent, mereka datang ke Bangka untuk bekerja di parit penambangan timah dan umumnya yang datang itu adalah laki-laki, tidak membawa keluarga. Terus didatangkankan pada masa Inggris, Belanda, Jepang, dan mereka itu disebut Sinkek maksudnya Sinkek itu orang yang masih terikat kepada kontrak penambangan timah," sebut Elfian.

Lalu para Sinkek itu menikah dengan pribumi Bangka Belitung dan diatur didalam hukum adat  sindang merdeka, dengan aturan orang Tionghoa memamg dibolehkan menikahi pribumi Bangka namun perempuan Bangka tidak boleh dibawa keluar harus tetap di Bangka.

"Nah ini salah satu penyebab orang-orang Tionghoa itu tidak pulang ke Cina, karena dia sudah menikah dengan perempuan Bangka dan aturan adatnya tidak boleh dibawa keluar. Nah setelah mereka menikah pastinya mempunyai pertalian darah terutama anaknya yang disebut pernakan karena laki-lakinya orang Tionghoa dan perempuannya pribumi Bangka," jelas Elvian.

Menurutnya, ketika terjadi pertalian darah itu melalui asimilasi perkawinan itu maka mereka bersaudara yang disebut Tongin Fan Ngin Qin Ngin.

Halaman
123
Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved