Breaking News:

Tribunners

Badai Corona dan Akhir Tradisi Mudik

Berdasar data dari Bank Indonesia (BI), jumlah uang yang beredar pada mudik Lebaran tahun 2019 lalu, misalnya, mencapai Rp 217 triliun

Badai Corona dan Akhir Tradisi Mudik
Istimewa
Djoko Subinarto - Kolumnis dan Blogger

PEMERINTAH kita telah secara resmi melarang mudik untuk Lebaran tahun ini. Larangan mudik itu berlaku untuk seluruh ASN, anggota TNI dan Polri, BUMN, karyawan swasta maupun pekerja mandiri serta seluruh masyarakat. Larangan mudik dimulai 6-17 Mei 2021. Adapun sebelum dan sesudah tanggal tersebut, masyarakat diimbau tidak melakukan perjalanan ke luar kota bila tidak sangat mendesak.

Seperti halnya pelarangan mudik tahun lalu, salah satu pertimbangan pelarangan mudik Lebaran tahun ini yaitu guna menekan penyebaran Covid-19.

Dampak pandemi corona memang sungguh luar biasa. Nyaris semua aspek kehidupan terdampak oleh corona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut virus corona jauh lebih mengancam dan lebih berbahaya ketimbang terorisme.

Realitasnya, di samping menimbulkan gangguan kesehatan secara masif dan kerusakan psikologis berupa menurunnya tingkat rasa aman masyarakat, pandemi corona juga melahirkan konsekuensi negatif bagi pembangunan ekonomi. Wabah corona membawa kelesuan pada sejumlah industri, seperti pada industri penerbangan dan pariwisata -- yang memang sangat sensitif dipengaruhi oleh isu keamanan.

Pandemi corona juga menurunkan investasi dan transaksi perdagangan, yang berimbas pada goyahnya pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, serangan virus corona juga turut membengkakkan jumlah dana yang harus dikeluarkan negara lantaran melonjaknya ongkos untuk penanganan pandemi.

Pandemi corona telah membawa kita semua dalam keadaan sulit. Meskipun demikian, kita sesungguhnya bisa segera keluar dari situasi sulit dan bahaya ini sekiranya kita mau bersedia mengorbankan diri kita dengan lebih banyak tinggal di rumah, untuk sementara waktu. Seperti sama-sama kita ketahui, salah satu upaya penting dalam memutus mata rantai penularan virus corona adalah dengan menjauhi keramaian/kerumunan.

Tradisi mudik

Kita telah mafhum sejak lama, kendatipun Lebaran atau Idulfitri sejatinya berlangsung hanya sehari, toh libur Lebaran di negeri ini bisa berlangsung beberapa hari. Boleh jadi panjangnya libur Lebaran ini untuk memberi kesempatan bagi mereka yang hendak melakoni perjalanan mudik ke kampung halaman untuk merayakan Idulfitri yang datang cuma setahun sekali dan sekaligus untuk mengurai lalu lintas selama dan setelah musim mudik Lebaran.

Sebagaimana kita maklumi, mudik Lebaran telah menjadi acara kolosal tahunan bagi sebagian warga negeri ini. Saban tahun pula kehebohan mudik selalu muncul dan menjadi salah satu agenda nasional, yang menyedot energi serta ongkos yang tidak kecil serta membuat banyak pihak repot dan sibuk. Aktivitas mudik tampaknya telah menjadi tradisi yang mendarah daging di kalangan masyarakat kita. Bagi kebanyakan orang di negeri ini, sepertinya kurang afdal, kurang elok, merayakan Lebaran tanpa mudik ke kampung halaman.

Faktanya, jauh hari sebelum Lebaran tiba, sebagian masyarakat kita sudah sibuk melakukan persiapan untuk mudik. Di antaranya saja, misalnya, mulai dari melakukan pemesanan tiket kereta api, tiket kapal laut serta pesawat terbang, mem-booking mobil sewaan, hingga mengkredit sepeda motor.

Halaman
12
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved