Breaking News:

Cinta Para Nyai di Batavia, Syarat Pergundikan Meneer Kompeni, Lahirnya Bisnis Prostitusi

kata nyai berkonotasi lain di masa kompeni, khususnya di zaman para meneer kumpeni berkuasa karena punya arti gundik, selir, atau wanita peliharaan...

Wikimedia Commons
Cinta Para Nyai di Batavia, Syarat Pergundikan Meneer Kompeni, Lahirnya Bisnis Prostitusi__ Mariam si Manis Jembatan Ancol dan Nyai Dasima 

Cinta Para Nyai di Batavia, Syarat Pergundikan Meneer Kompeni, Lahirnya Bisnis Prostitusi

BANGKAPOS.COM -- Sosok para Nyai. Kisah mereka sangat lekat di mata warga lokal namun justru ditutup-tutupi setengah mati oleh VOC agar kisahnya tidak sampai ke negeri asal mereka, Belanda.

Kisah para nyai pada dasarnya merupakan praktik pergundikan dari para meneer kompeni yang pada akhirnya malah melahirkan bisnis prostitusi di Batavia.

Beberapa sosok nyai bahkan menjadi kisah abadi yang kerap menginspirasi cerita atau bahkan film.

Sebut saja sosok Nyai Dasima dan Mariam atau yang lebih dikenal dengan Si Manis Jembatan Ancol yang kisah tragis hidup mereka sebagai nyai menginspirasi cerita film.

Lalu, bagaimana kisah para nyai sebenarnya? Benarkah di antara kemewahan yang mereka dapatkan, ada siksaan dan cacian tanpa henti yang mereka terima baik dari 'meneer' yang memiliki mereka maupun dari masyarakat?

Baca juga: Terungkap, Raffi Ahmad Beli Klub Sepak Bola Ternyata Tak Izin kepada Nagita Slavina

Sejak Jan Pieterszoon Coen mulai mendirikan kastil di pinggiran Sungai Ciliwung untuk kemudian membangun kota bernama Batavia di awal abad ke-17, sejak itulah keberadaan budak mulai tumbuh.

Semula hanya digunakan sebagai tenaga kerja. Namun, kemudian budak menjadi penakar status sosial bagi pejabat VOC. Maka sistem perdagangan budak pun berkembang, calo budak pun menjamur.

Keberadaan budak perempuan ikut menghidupkan, bahkan menyuburkan, praktik kumpul kebo di Batavia. Seperti sudah pernah ditulis sebelumnya, sistem pergundikan jadi cikal bakal prostitusi. Kasus cinta gelap serta dunia per-nyai-an muncul dan terus berkembang.

Thomas B Ataladjar dalam Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama di tepian Muara Ciliwung menyebutkan, kata nyai berkonotasi lain di masa kompeni, khususnya di zaman para meneer kumpeni berkuasa karena punya arti gundik, selir, atau wanita peliharaan pria Belanda.

Halaman
1234
Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved