Breaking News:

Lada Bangka Belitung

Semakin Cangih Begini Cara Mudah Mengecek Harga Lada Bangka Belitung Cukup Pakai Handphone

Semakin Cangih Begini Cara Mudah Mengecek Harga Lada Bangka Belitung Cukup Pakai Handphone

Kompas.com/Heru Dahnur
Lada putih Bangka yang sudah dikemas sebagai salah satu komoditas ekspor dengan pasar hingga Eropa. 

Mulai menanam pohon lada tersebut pada tahun 2015 lalu.

"Sudah empat kali panen tidak pernah dijual, karena harganya turun. Iya harga lada sudah mulai naik lagi ini, tapi kami belum jual, karena kemungkinan akan naik lagi," kata Kakek, Senin (5/4/2021) kepada posbelitung.co (Grup Bangka Pos), Senin (5/4/2021).

Sekarang, pohon lada terlihat kokoh di area perkebunan ini hanya sekitar 5.000 pohon dari angka 10.000 pohon sebelumnya sempat ditanam.

Pohon lain sudah mati, lantaran terserang hama penyakit.

"Ya sekarang hanya panen buah penyelang saja istilahnya, tapi setiap hari masih dapat 10 ambong. Ini belum semua dipanen," ujarnya.

Selain harga mengalami penurunan sejak beberapa tahun belakang, produksi pada pohon lada ini mengalami penurunan.

Pada tahun 2018 lalu, Kakek sempat memanen hingga 8 ton.

"Tahun kemarin (2020) hanya dua ton saja. Ya ini karena dampak tadi, terserang hama penyakit. Kalau menanam ini tidak begitu sulit, pelihara nya yang sulit," jelasnya.

Ia berharap, kepada Pemerintah Pusat agar memikirkan harga lada tersebut, sehingga tidak terjadi penurunan.

Apabila terjadi penurunan, dampak pertanian akan sangat terasa.

"Kami mohon kepada menteri perdagangan, agar harganya mengalami kenaikan, karena kalau harganya kecil kita tidak makan, hanya cukup untuk beli pupuk saja," bebernya.

Faktor kenaikan harga lada

Kenaikan harga lada ini diprediksi akan terus terjadi hingga tahun 2022 mendatang.

Salah satu faktor kenaikan harga laga adalah produksi hasil pertanian menurun.

"Harga segitu (Rp 85.000,- per Kg), sekitar satu bulan belakang dan dari awal tahun terus mengalami kenaikan dari segi harga," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung, Destika Effenly kepada Posbelitung.co, Senin (5/4/2021).

Terjadi peningkatan harga lada ini, kata dia, dipengaruhi siklus disebut 7 hingga 10 tahun.

Terakhir harga lada melambung tinggi pada tahun 2015 lalu pada angka Rp 180.000 per Kg.

Siklus harga lada melambung tinggi ini, hasil data dipegang olehnya, dari tahun 2006 - 2007, 1998, dan 2015.

Tahun 2021 - 2022, sudah masuk pada siklus tersebut.

"Nah ini sudah mulai siklusnya terjadi. Ini tentu menjadi kabar baik bagi petani, dan saya berharap petani lada bertahan lah di lada, dan jangan sampai ditinggalkan. Agar bibit tidak habis, karena kalau di tinggal nanti sulit mencari bibit," ucapnya.

Lada Belitung memiliki kualitas baik.

Pasar lada ini, ekspor ke berbagai negara. Produksi lada Belitung, hingga sekarang tetap stabil dan menjadi incaran perdagangan ekspor.

Menurut Destika, sekarang ini Pemerintah Kabupaten Belitung tetap fokus pada pengembangan petani lada.

Pada tahun 2020, terdapat bantuan dana APBN melalui Pemerintah Provinsi kepada petani lada.

Bantuan itu berupa 125 hektare perluasan lahan berupa bibit.

Terdapat 160 bibit lada dalam lingkup satu hektar dibantu oleh Pemerintah Pusat, berikut pupuk serta obat-obatan.

Sedangkan bantuan lain berupa rehabilitasi lahan, seluas 300 hektar, bantuan ini bersifat insentif.

"Itu bantuan Kementerian dan sekarang masih terus digarap. Paling banyak petani di Kecamatan Membalong dan Sijuk. Petani lama masih eksis, apalagi di Kecamatan Membalong, apapun terjadi mereka tetap menanam lada," jelasnya.

Berikut data produksi Lada Belitung:

Tahun 2019

- Produksi satu tahun : 4.793.420 kilogram
- Rata-rata produksi per hektar : 1.199,73 Kg

Tahun 2020

- Produksi satu tahun : 159.600 kilogram
- Rata-rata produksi per hektar : 1.085,71 kilogram

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung.

Baca berita lainnya terkait Lada

(Posbelitung.co/Disa Aryandi/Bangkapos.com/Dedy Qurniawan)

Editor: M Zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved