Breaking News:

Ramadhan 2021

Soekarno pun Sempat Salat di Masjid Ini, Arsitektur Kuno, Diresmikan Tahun 1883

Beralaskan ubin Italia, Masjid Jami yang beralamat di Jalam Imam Bonjol, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat (Babar) ini merupakan masjid

bangkapos.com
Masjid Jami yang dibangun sejak 1882, memiliki nilai sejarah termasuk Presiden Soekarno pernah salat di masjid ini. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy) 

BANGKAPOS.COM , BANGKA - Beralaskan ubin Italia, Masjid Jami yang beralamat di Jalam Imam Bonjol, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat (Babar) ini merupakan masjid permanen yang berusia tak muda lagi. 

Berdasarkan kaligrafi yang berada di atas pintu masuk masjid, diketahui Masjid Jami  diresmikan pada 19 Muharram 1300 H (1883 Masehi).

Selain itu kaligrafi yang berada di atas mimbar menjelaskan, Tumenggung Abang Muhammad Ali Kertanegara II merupakan tokoh penggagas berdirinya Masjid Jami.

"Ini dari Tumenggung Sumatra Selatan, yang menggagas membangun ini. Jadi ini dulu yang bangun Kelenteng juga sama membangun ini, cuman arsiteknya aja yang beda. Ini dulu malam wanita yang kerja karena waktu dulu zaman penjajahan, yang laki-laki kerjanya siang," ujar Pengurus Masjid Jami, Fahmi, Rabu (7/4/2021).

Yang jelas Masjid Jami Muntok dibangun bergaya campuran Eropa, Melayu dan Cina. Bentuk bangunannya tetap mempertahankan bentuk asli menggunakan dua atap bertingkat yang menyerupai atap tumpang.

"Bentuk tugu itu dari Cina, bangunan-bangunan pintu jendela itu Eropa, tangga teras bertingkat itu melayu.
Lantai ini batu alam dari Itali, jadi yang beli ke Italia itu orang Cina. Jadi masjid ini juga menandakan toleransi yang tinggi, tidak pernah ada gonto-gontokan sampai sekarang juga mereka sering membantu," jelasnya.

Walaupun terdapat tiga gaya arsitektur, namun Masjid Jami memiliki makna yang kental dengan ajaran Agama Islam.

Hal ini terlihat pada enam pilar-pilar besar penyangga bangunan masjid, yang memiliki makna jumlah rukun iman. Untuk pintu terdapat lima buah yang menandakan jumlah salat lima waktu, lalu terdapat besi padat pilar penyangga yang berjumlah 17 sebagai 17 rakaat salat lima waktu.

Bahkan untuk jendela pun juga memiliki makna di mana bagian depan terdapat dua jendela besar sebagai pengingat Salat Subuh, sisi kanan kiri terdapat masing-masing empat jendela sebagai pengingat Salat Zuhur dan Ashar.

Bagian belakang terdapat tiga jendela sebagai pengingat Salat Maghrib, serta juga terdapat empat jendela yang merupakan tanda jumlah rakaat Salat isya.

Halaman
12
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: Fery Laskari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved