Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tanaman Porang Mulai Booming di Bangka Belitung, Ini Ternyata Manfaatnya

Tanaman porang saat ini menjadi primadona. Tanaman ini dulu diabaikan sebagai tanaman liar di pekarangan rumah atau tempat lainya.

bangkapos.com
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung, Juaidi Rusli.(Bangkapos.comRiki) 

BANGKAPOS.COM , BANGKA --Tanaman porang saat ini menjadi primadona. Tanaman ini dulu diabaikan sebagai tanaman liar di pekarangan rumah atau tempat lainya. Tetapi kini, banyak dibudidayakan petani di sejumlah daerah, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Tanaman ini di pasar ekspor, sebagai tanaman umbi yang diolah menjadi tepung dan banyak dicari.

Porang biasanya dimanfaatkan dengan diolah menjadi tepung yang dipakai untuk bahan baku industri kosmetik, perekat atau lem dan campuran makanan lainya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung, Juaidi Rusli, mengatakan, porang merupakan jenis tanaman umbi umbian. Di Babel booming dua tahun belakang ini.

"Tanaman porang merupakan jenis umbi umbian memang ini tanaman yang sudah  lama dikenal di daratan Jawa kalau di Babel. Baru satu dua tahun ini booming 2018 dan 2019 lalu, walaupun sudah lama dikenal masyarakat," jelas Juadi kepada Bangkapos.com, Selasa (13/4/2021) di kantor DPRD Babel.

Juadi, menjelaskan tanaman porang banyak memiliki manfaat baik untuk kesehatan dan bahan lainya seperti pembuatan kosmetik dan  bahan industri.

"Dengan permintaan tinggi sekarang ini di pasar ekspor porang banyak diminati karena ini rendah kalori digunakan untuk kesehatan, seperti beras porang untuk konsumsi. Kemudian dapat juga menjadi perekat, alat kosmestik, indutri pesawat terbang karena perekat fungsinya sangat banyak,"jelasnya.

Dia menjelaskan tanaman porang di Indonesia dan Bangka Belitung belum begitu familiar. Dan telah menjadi bahan tujuan ekspor, bukan untuk konsumsi dalam negeri.

"Karena beras porang ini di pasaran online cukup mahal Rp 230 ribu dan harga porangnya sendiri Rp 7-10 ribu perkilogramnya," ujarnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)


Penulis: Riki Pratama
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved