Breaking News:

Incaran Pasar Ekspor, Tanaman Porang Milik Petani Ini Ditawar Rp 825 Juta, Purnama: Saya Minta 1,2 M

Saat ini tanaman porang layaknya tambang emas yang bisa memberikan rejeki melimpah. Harga porang di pasaran ekspor juga terus meningkat.

Editor: khamelia
(surya/rahardian bagus p)
Mujiono (56), seorang petani asal Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun sukses membudidayakan porang. Penjelasan tentang porang, tanaman porang, porang tanaman, pohon porang, budidaya porang, harga porang, manfaat porang 

BANGKAPOS.COM - Tanaman porang bagi warga Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Madiun, bukan lagi tanaman liar yang tak berguna. Namun, saat ini tanaman porang layaknya tambang emas yang bisa memberikan rejeki melimpah. 

Salah satunya Kepala Desa Durenan, Purnama (50), yang memiliki lebih kurang lahan porang seluas 2,8 hektar.

Tak tanggung-tanggung, di lahan itu telah dia tanami 38.000 batang pohon porang. 

"Ini sudah ditawar Rp 825 juta, tetapi saya minta Rp 1,2 miliar. Perkiraan ada sekitar 38.000 pohon. Kalau satu pohon bisa menghasilkan 4 kg dan saat ini harga per kilo Rp 10.000, semua bisa laku 1,5 miliar," katanya sambil tersenyum, seperti dilansir dari Surya.co.id.

Baca juga: Selundupkan 5 Kg Sabu, Mantan Anggota DPRD Palembang dan 5 Bandar Divonis Hukuman Mati

Purnama mengaku, menanam porang memang terbilang mudah. Namun, modal awal untuk membeli bibit porang cukup mahal. Untuk satu hektare lahan, menurutnya, dibutuhkan modal sekitar Rp 55 hingga Rp 60 juta untuk membeli bibit. Namun, kata Purnama, ketika panen petani bisa memperoleh Rp 300 juta lebih.  

"Bahkan sebelah rumah saya, ia beli bibit Rp 12 juta, ketika panen dijual laku Rp 55 juta," urainya. 

Purnama pun mengakui, selama menjadi petani porang, dirinya telah merasakan hasilnya. Setidaknya dirinya bisa membeli dua unit mobil dan lima motor, serta membangun rumahnya. 

Baca juga: Sering Didatangi Orang untuk Minta Bantuan ke Baim Wong, Paula Kesal Sampai Akan Jual Rumah

Petani porang lainnya, Mujiono (56) warga Desa Durenan mengaku telah memulai menanam porang sejak 27 tahun lalu. Waktu itu, katanya, porang hanyalah dianggap tanaman liar, tak ada nilainya. Namun, dalam 10 tahun terakhir, keadaan berubah. 

Porang menjadi incaran dan bisa memberi keuntungan bagi petani. "Saya sudah menanam porang sejak 1994, waktu itu harganya masih Rp 2.000 per KG," kenang Mujiono, saat ditemui di rumahnya, Senin (12/4/2021) siang. 

Mujiono lalu menceritakan, di awal menjadi petani porang, dirinya hanya bermodal keringat dan tekad. Waktu itu, dirinya mencari bibit porang di hutan yang ada di lereng Gunung Wilis, tak jauh dari desanya. 

Baca juga: Bongkar Korupsi di Kantornya, ASN Damkar Dipanggil Kemendagri, Beberkan Spek Sepatu yang Tak Sesuai

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved