Breaking News:

Tribunners

Bersiap Menghadapi Asesmen Literasi Membaca

Asesmen literasi membaca akan dilaksanakan sekitar September-Oktober 2021.

(KOMPAS.com/M ZAENUDDIN)
Anak-anak membaca buku yang disediakan relawan Cawang Atas, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (11/10/2019). pelbagai bantuan terus diberikan kepada warga terdampak berupa pakaian, makanan, dan juga buku bacaan untuk anak-anak. 

Oleh: Kurniawan Adi Santoso - Guru SDN Sidorejo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

KITA sedih tingkat literasi membaca siswa Indonesia masih rendah. Pada tes PISA (Programme for International Student Assessment) 2018, kemampuan siswa Indonesia dalam membaca meraih skor 371 dan menempati peringkat 72 dari 78 negara. Jika tingkat literasi membaca rendah, sudah dapat dipastikan bahwa kemampuan akademik lainnya di bidang sains, ilmu sosial, matematika juga pasti akan sangat rendah.

Karena itu, untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa, mulai 2021 ini Kemendikbud akan melakukan asesmen kompetensi minimum yang di dalamnya ada tes literasi membaca. Siswa yang duduk di kelas 5, 8, 11 di seluruh wilayah Indonesia akan dipilih secara acak untuk mengikuti asesmen literasi membaca (ALM).

Hasil ALM akan memberikan potret level kompetensi literasi membaca murid di setiap satuan pendidikan. Ada empat level: 1) Perlu intervensi khusus, 2) Dasar, 3) Cakap, 4) Mahir. Lalu, capaian level yang diperoleh sekolah digunakan Kemendikbud untuk mendorong sekolah dan dinas pendidikan memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran membaca secar terus-menerus. Konon dorongan Kemendikbud bisa berupa pendanaan dan pendampingan kinerja.

Asesmen literasi membaca akan dilaksanakan sekitar September-Oktober 2021. Kini sekolah-sekolah sudah mulai mempersiapkan diri menghadapi ALM. Namun, sangat disayangkan, pihak sekolah beranggapan ALM sama seperti ujian nasional. Akhirnya, untuk menghadapi ALM dipersiapkan secara pragmatis.

Pihak sekolah mulai membeli buku-buku berisi soal literasi. Lalu, anak-anak disuruh berlatih soal-soal asesmen literasi. Harapan sekolah, saat ujian nanti, anak-anak yang ikut ALM bisa mudah mengerjakan soal dan hasilnya tidak mengecewakan sekolah.

Kalau seperti itu, kita khawatir malah capaian literasi hanya bagus di atas kertas. Artinya, nilai siswa bagus di dalam rapor, tetapi pada tataran praksisnya budaya membaca siswa masih rendah. Bahkan siswa belum bisa memakai kompetensi literasi yang dimiliki untuk mengembangkan kapasitas individu secara produktif di masyarakat.

Terus bagaimana? Mestinya ada ALM, sekolah bergerak terus memperbaiki kualitas pembelajaran membaca. Ini menuntut guru harus inovatif. Misal, mengajari anak didik beragam teknik membaca. Dengan teknik baca yang tepat, anak-anak mampu dengan cepat menyimpulkan isi bacaan. Pun membaca sekian halaman buku tidak terasa melelahkan.

Kebanyakan anak-anak kita ketahanan membacanya masih rendah. Ini terbukti dari penelitian Titik Harsiati tentang Karakteristik Soal Literasi Membaca pada Program PISA, yang dimuat di Jurnal LITERA Volume 17, Nomor 1, Maret 2018, bahwa kelemahan anak-anak Indonesia pada tes PISA adalah ketahanan membacanya masih rendah. Soal membaca PISA yang cenderung menggunakan wacana yang panjang dengan jumlah kata 135-600 kata.

Maka itu, dibutuhkan penguasaan kompetensi teknik membaca. Agar dapat membantu siswa memiliki ketahanan membaca lebih lama. Teknik baca yang dimaksud adalah teknik baca skimming, yakni membaca secara garis besar (sekilas) untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai isi teks.
Teknik skimming biasa dipakai untuk membaca teks panjang. Teknik ini mengandalkan kecepatan membaca. Dan kita bisa menggunakannya untuk keperluan: mengenal topik bacaan, opini, bagian penting teks, organisasi penulisan, penyegaran, dan memperoleh kesan umum dari sebuah buku yang dibaca (Soedarso, 2004:30).

Halaman
12
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved