Horizzon
Giliran GeNose yang Ingkar Janji
Di awal mengklaim cukup Rp400 untuk setiap kali pengetesan, kali ini kita melihat bahwa biaya untuk uji GeNose berkisar antara Rp25 ribu
EMPAT bulan berstatus sebagai barang yang diistimewakan dalam rangka upaya pencegahan penularan Covid-19, kejayaan rapid antigen tampaknya akan segera berakhir. Alat deteksi Covid-19 ini akan segera digantikan oleh GeNose yang merupakan karya anak bangsa.
Rapid antigen menjadi barang yang laris manis setelah spek-nya dikunci di dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 3 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang Selama Libur Hari Raya Natal dan Menyambut Tahun Baru 2021 dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019.
Melalui surat edaran tersebut, penggunaan antigen diwajibkan untuk kelengkapan dokumen perjalanan sejak 19 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021. Di dalam surat edaran tersebut juga ditegaskan bahwa masa berlaku rapid antigen untuk dokumen perjalanan adalah dua kali 24 jam atau tiga hari efektif.
Setelah awalnya diberlakukan untuk menyambut libur Natal dan tahun baru, antigen terus berlaku hingga saat ini. Namun rasa-rasanya, posisi istimewa antigen akan segera berakhir dan digantikan oleh GeNose.
Sebelum membahas soal GeNose, tak salah jika kita menengok ke belakang soal dokumen perjalanan di era Covid-19. Munculnya rapid antibody tak lepas dari kebijakan pemerintah yang kala itu melarang seluruh penerbangan komersial terbang antara tanggal 24 April 2020 hingga 1 Juni 2020. Biar lebih mudah mengingatkan, kala itu muncul polemik soal larangan mudik namun boleh pulang kampung bersamaan dengan Lebaran 2020.
Nah, pascalarangan terbang inilah rapid antibody muncul seolah-olah menjadi solusi bagi mereka yang ingin bepergian dengan moda transportasi utamanya udara. Kita masih ingat, dahulu rapid antibody sebagai dokumen perjalanan ini berlaku untuk 14 hari.
Setali tiga uang, baik antibodi maupun antigen pada eranya masing-masing mendapatkan posisi istimewa karena disebut langsung dalam banyak regulasi. Dalam istilah yang dikenal oleh broker-broker pengadaan barang dan jasa, kedua barang itu telah dikunci spek-nya.
Tidak perlu diperdebatkan, entah barang tersebut milik siapa dan asalnya dari mana, di saat pemerintah menetapkan status tanggap darurat, maka hal-hal sepele seperti menentukan antibodi atau antigen adalah sesuatu yang diperbolehkan.
Dalam kasus ini serta mengingat situasi saat ini pandemi yang masih berlangsung, mungkin diskusi soal berapa rupiah kita yang dinikmati oleh produsen rapid antibody dan antigen menjadi sesuatu yang sedikit tabu untuk dibicarakan. Asal semua untuk mencegah penularan Covid-19, maka semuanya menjadi sah-sah saja.
Ada baiknya saat ini kita fokus pada karya anak bangsa, karya Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berhasil menemukan GeNose, alat deteksi Covid-19 yang praktis, cepat, akurat dan murah. GeNose adalah metode mendeteksi Covid-19 dengan membaca pola embusan napas yang diolah melalui kecerdasan buatan di dalam software komputer.
Alat ini dibilang simpel karena untuk melakukan pengetesan cukup dengan meniup kantong udara yang akan langsung diolah oleh komputer. Dikatakan cepat karena dalam waktu sekitar lima menit, kecerdasan buatan yang ada di dalam komputer sudah akan langsung membaca dan memberikan hasil apakah seseorang positif atau negatif.
Terakhir, GeNose diklaim mudah karena memang biayanya sangat terjangkau. Dikenalkan sekitar Oktober 2020, UGM mengatakan bahwa untuk sekali pengetesan GeNose hanya berbiaya Rp400, biaya ini tampaknya setara dengan harga kantung plastik yang digunakan untuk menampung embusan napas yang akan diuji.
Dengan sangat bangga, Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro juga pernah menyebut bahwa satu unit GeNose yang harganya sekitar Rp62 juta, bisa untuk mengetes hingga 100.000 kali.
Namun entah kenapa, GeNose yang di awal mendeklarasikan diri sebagai alat tes karya anak bangsa yang praktis, cepat dan murah tampaknya mulai ingkar janji.
Saat di awal mengklaim cukup Rp400 untuk setiap kali pengetesan, kali ini kita melihat bahwa biaya untuk uji GeNose berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp40 ribu. Artinya, tarif tes GeNose ini naik 100 kali lipat dari saat GeNose pertama kali diperkenalkan.
Pertanyaannya adalah adakah sesuatu yang beda di alat tes karya anak bangsa yang konon akurasinya mencapai 96 persen ini? Jika memang tidak ada penjelasan yang terang benderang soal ini, bolehkah kita mengajukan pertanyaan bahwa GeNose terpaksa naik tarif agar mendapat lisensi dari WHO?
Atau lebih sederhana, apakah GeNose harus naik harga agar memiliki value dari sisi bisnis di era pandemi ini sehingga bisa memperoleh lampu hijau untuk digunakan dan spek-nya dikunci melalui regulasi? Jika pertanyaan terakhir ini jawabannya benar, maka pandemi ini tidak akan pernah berakhir sepanjang masih ada sisi bisnis yang mendompleng dan menggunakan virus sebagai inangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)