Breaking News:

Tribunners

Haruskah Impor Beras?

Pemerintah diharapkan lebih memaksimalkan penanganan pascapanen agar kualitas dan daya serap gabah petani meningkat

(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)
Tumpukan karung beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat, Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (15/8). Stok beras di gudang tersebut dinyatakan aman untuk mencukupi kebutuhan Lebaran. Ketersediaan jumlah yang mencukupi tersebut diharapkan juga memengaruhi kestabilan harga kebutuhan pokok, terutama beras di pasaran untuk beberapa pekan ke depan. 

Oleh: Jamik Safitri - Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

KEBIJAKAN impor akan dilakukan oleh pemerintah sebanyak satu juta ton pada tahun 2021. Kebijakan impor beras pertama kali diketahui dari bahan paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjadi pembicara pada rapat kerja nasional Kementerian Perdagangan. Airlangga saat itu menjelaskan bahwa perlu menjaga stok beras di Perum Bulog 1-1,5 juta, salah satunya dengan impor beras. Rencana kebijakan impor beras ini menuai polemik, pasalnya saat ini panen padi petani bisa dikatakan sedang panen raya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan produksi Gabah Kering Giling (GKG) tahun 2020 mencapai 54,65 juta ton. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai 54,60 juta ton. Angka ini jika dikonversi menjadi beras maka produksi beras di tahun 2019 adalah 31,31 juta ton dan menjadi 31,33 juta ton beras di tahun 2020. Peningkatan produksi beras tetap bergerak positif meski di tengah pandemi.

Selain itu, data potensi hasil panen juga menunjukkan peningkatan produksi pada tahun 2021. Produksi beras bulan Januari hingga April meningkat 3,08 juta ton atau naik sebesar 26,84 persen di tahun 2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan potensi ini masuk akal terjadi mengingat produktivitas yang meningkat serta areal yang terus-menerus dialiri curah hujan. Kenaikan potensi juga dikarenakan terjadinya panen raya di awal tahun.

Peningkatan hasil produksi petani pada awal tahun 2021 masih mampu memenuhi kebutuhan beras di Indonesia. Pasalnya selain produksi padi petani yang meningkat, Indonesia masih memiliki sisa stok beras dari tahun 2020 sebanyak 6,74 juta ton di Perum Bulog. Jika angka potensi produksi terealisasi maka produksi beras di tahun 2021 lebih dari 31,33 juta ton.

Prediksi USDA Foreign Agricultural Services memperkirakan produksi beras Indonesia akan mencapai 35,5 juta ton. Kalkulasi dari keseluruhan potensi hasil panen dan sisa stok tersedia pasokan untuk tahun 2021 mencapai 37,53 juta ton. Sementara itu, menurut Kementerian Pertanian, kebutuhan beras di tahun 2020 hanya 30,08 juta ton tentu tidak akan berbeda jauh dengan kebutuhan di tahun 2021.

Penghitungan hasil panen yang memadai bahkan diperkirakan melebihi kebutuhan nasional sudah membuat harga gabah petani merosot, ditambah lagi dengan adanya isu impor beras berdampak pada harga gabah petani yang terpuruk. Data BPS mencatat bahwa harga gabah kering petani pada bulan Januari 2020 berada di level Rp5.273 per kg, sedangkan di Januari 2021 Rp 4.900 per kg. Begitu pun di Bulan Februari 2021 yang turun menjadi Rp 4.700 per kg.

Di lapangan bahkan ditemukan tengkulak yang biasa mengambil gabah petani akhirnya menolak. Mereka tidak hanya membeli dengan harga yang rendah akan tetapi sudah cenderung menolak semenjak adanya isu impor beras. Mereka khawatir harga akan sangat merosot dan berdampak pada kerugian yang besar. Alhasil petani panen pun hanya gigit jari karena gabah kering hasil panen masih teronggok di rumah tanpa bisa di jual.

Panen berlimpah tetapi tidak bisa mendapatkan keuntungan bahkan notabenenya justru mengalami kerugian, ditambah dengan isu yang muncul membuat petani terpuruk. Petani yang terpuruk tergambar dalam nilai tukar petani untuk tanaman pangan yang justru menurun saat panen. Berdasarkan rilis data BPS, nilai tukar petani tanaman pangan turun 1,85 persen di bulan Maret. Harga gabah di kalangan petani pun mengalami penurunan. Kondisi ini membuat petani yang berusaha menghadirkan nasi terhidang di meja justru kebingungan menghadirkan lauk pauk di meja mereka.

Sudah seharusnya pemerintah lebih mencermati kembali keputusan untuk impor beras. Presiden Jokowi sudah menegaskan bahwa hingga Juni 2021 tidak akan ada impor beras. Tetapi tak menutup kemungkinan setelahnya akan dilakukan impor beras. Pemerintah diharapkan lebih memaksimalkan penanganan pascapanen agar kualitas dan daya serap gabah petani meningkat. (*)

Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved