Breaking News:

Tribunners

Kartini di Masa Pandemi

Amanah tambahan perempuan di masa pandemi yakni menjadi agen pemutus penyebaran Covid-19 dan menjadi seorang guru school from home

Editor: suhendri
surya.co.id/habibur rohman
Ilustrasi 

Oleh: Uswatun Nurul Afifah - Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

LABEL sebagai "tahun terberat" tidaklah berlebihan untuk menandai setahun terakhir sejak Indonesia dilanda Covid-19. Pada awal tahun 2020 sampai dengan hari ini, kita masih belum benar-benar bisa beradaptasi dengan Covid-19. Kesehatan yang terancam, perekonomian yang terguncang, dan semua kegiatan yang kudu disesuaikan sesuai protokol kesehatan menjadi tantangan bagi semua pihak.

Saat pandemi, perempuan kembali berperan. Mencontek semangat juang Kartini untuk berjuang saat pandemi, dengan cara yang berbeda. Bagaimana tidak? Karena sebagian besar kegiatan diimbau untuk dilakukan di rumah, peran perempuan otomatis makin bertambah.

Tersemat amanah lain disamping tugas mulia rutinan yang selama ini diemban perempuan. Tugas keseharian seperti memasak, mengurus keluarga, dan rumah itu sendiri kini harus ditambah lagi. Amanah tambahan perempuan di masa pandemi yakni menjadi agen pemutus penyebaran Covid-19 dan menjadi seorang guru school from home (SFH). Keduanya menjadi mustahil dilakukan jika perempuan tidak melek di era digital.

Menengok fakta yang ada, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perempuan Indonesia yang menggunakan internet tidak sampai setengahnya. Terhitung hanya sebesar 44,86 persen dari total perempuan yang menggunakan internet pada tahun 2019. Namun, jumlah tersebut sudah lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang hanya 37,49 persen.

Adanya indikasi bahwa tidak semua perempuan mempunyai akses internet menjadi pertanyaan tersendiri. Bagaimana mereka bisa memainkan peran yakni mendampingi keluarga saat pandemi jika tidak dibekali teknologi yang mumpuni?

Peran Perempuan sebagai Pendamping Anak Saat SFH

Menurut UNESCO, setidaknya 1,5 miliar anak usia sekolah di dunia terdampak Covid-19. Di Indonesia, jutaan anak resmi menjalani pembelajaran jarak jauh sehingga harus belajar dari rumah (SFH). Sekolah dianggap menjadi salah satu media yang mempermudah penyebaran Covid-19 sehingga aktivitas ini harus dibatasi. SFH pun menjadi kebijakan pemerintah sampai hari ini dan belum jelas kapan berakhirnya. Simpang siur kabar masuknya sekolah secara fisik sering terdengar tetapi belum terealisasikan secara efektif.

Artinya, peran perempuan mendampingi anaknya selama SFH masih berpeluang bakal diperpanjang. Mendampingi anak dalam pembelajaran jarak jauh berkunci pada kepiawaian memanfaatkan teknologi. Di era digital seperti sekarang, perempuan dituntut untuk melek teknologi. Minimal bisa mengoperasikan gadget canggih seperti ponsel. Syukur-syukur mampu mengoperasikan laptop.

Menurut penelitian yang dilakukan smeru, sebagian besar orang tua tidak responsif dalam berkomunikasi selama SFH (87 persen). Faktor utamanya yakni kepemilikan alat komunikasi dan kuota. Hal ini memperkuat fakta bahwa perempuan harus melek teknologi untuk menjalani perannya sebagai orang tua di rumah.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved