Breaking News:

Tribunners

Zakat sebagai Solusi Mengatasi Kemiskinan

Masalah kemiskinan di masyarakat sebetulnya bisa diatasi dengan berbagai cara terkait dengan zakat.

Editor: suhendri
Zakat sebagai Solusi Mengatasi Kemiskinan
ISTIMEWA
Johan, S.Ag - Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pangkalpinang

Jawabnya ya benar, kehadiran Islam memang benar-benar "rahmatan lil alamin" bagi bumi dan seisinya. Islam memang sudah di-setting Allah untuk menjawab solusi-solusi bagi problematik hidup manusia. Problem kemiskinan misalnya, problem kemiskinan sepertinya akan selalu ada di setiap kehidupan ini, karena ini adalah sunnatullah, tujuannya adalah untuk menguji kegigihan manusia dalam usaha mengubah kehidupannya menjadi lebih bermartabat tentunya dibarengi dengan kerja keras, keuletan dan ketelatenan.

Seperti firman Allah di Surat Ar Ra'du ayat 11 yang artinya "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu mengubah dengan tangannya". Jelas sekali ayat ini mendorong manusia untuk tidak hanya berpangku tangan. Islam mengajarkan para pemeluknya bekerja keras untuk mencapai kehidupan yang layak agar mampu menjalankan tugas-tugas kemanusiannya dengan baik.

Kalaupun toh ada kemiskinan yang masing menggurita di negeri ini, ini juga merupakan ujian kesabaran bagi kaum papa sekaligus bentuk ujian bagi kaum berharta, bagaimana keduanya bisa saling take dan give sehingga tercipta sebuah harmoni yang saling membutuhkan antara satu dengan lain.

Perintah zakat menghadirkan rasa kemanusian bagi kaum berharta ketika melihat segala keterbatasan yang dimiliki kaum miskin, bagaimana tidak? Kedua hal ini saling terikat satu sama lain "si kaya" butuh "si miskin" untuk meringankan tugas-tugas hidupnya, begitu juga "si miskin" butuh "si kaya" untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Mereka laksana bersimbiosis mutualisme. Ini bisa dilihat tentunya mereka yang memiliki mata batin yang tajam, akan tetapi bagi mereka yang rabun mata batinnya (tidak mendapat hidayah dari Allah), ini tentunya sesuatu yang amat berat mengeluarkan sebagian hasil dari jerih payahnya untuk diberikan kepada orang lain.

Bagaimana kaum berharta tidak membutuhkan kaum lemah? Dalam Al-Qur'an disebut yang artinya "Ambillah dari harta sedekah (zakat) untuk membersihkan dan menghapuskan kesalahan mereka" ( At-taubah: 103). Kata "ambillah" ini menyiratkan sebuah keharusan berzakat yang harus dikeluarkan bagi kaum berpunya, bahkan perintah untuk mengambilnya. Bahwa sesungguhnya dalam harta-harta itu ada hak-hak orang miskin, fungsinya untuk membersihkan dan menghapus kesalahannya bagi orang-orang berpunya.

Sementara itu, "si miskin" merasa beban hidupnya ringan akan kebaikan "si kaya". Mereka hidup saling membutuhkan dan kasih mengasihi. "Si kaya" memberinya dengan senang hati tanpa mengeluarkan kata-kata menyakitkan, sedangkan "si miskin" menerima dengan suka dan gembira. Betapa indahnya Islam mengatur ini semua, betapa kuasanya Allah menciptakan "si kaya" dan "si miskin", Allah mempunyai tujuan agar mereka saling ta'awanu allah bi'ri watttaqwa (saling bertolong-tolongan dalam kebaikan dan takwa).

Masalah kemiskinan di masyarakat sebetulnya bisa diatasi dengan berbagai cara terkait dengan zakat.

Pertama, di kalangan umat muslim yang berharta sadar akan kewajiban zakat yang dikenakan kepadanya. Zakat mal misalnya, ketika harta benda kepemilikannya itu mencapai satu nisab, baginya 2,5 persen hak kaum lemah dari total harta kepemilikannya. Satu nisab barang dagangan bisa dikurskan dengan senilai 20 dirham atau sama dengan 85 gram logam emas murni (Terjemahan Nailul Authar:1183) dikali harga per gram logam emas murni di pasaran saat ini, kalau sudah lebih berarti wajib baginya berzakat.

Nah dari 2,5 persen harta-harta itu kalau dikumpulkan dari seluruh orang di Indonesia ini, barangkali bisa memodali para pengangguran di Indonesia untuk melakukan usaha-usaha kecil guna kelangsungan hidupnya yang lebih layak.

Kedua, perlunya sebuah satu kesepahaman di antara umat, dan barangkali yang menjadi kendala adalah bervariasi kesepahaman masing-masing individu. Karena dimungkiri ataupun tidak, umat Islam di Indonesia adalah sangat beragam tingkat pemahamannya terhadap syariat Islam. Dengan kata lain, dibutuhkan kesadaran yang cukup tinggi tentang hakikat zakat.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved