Breaking News:

Budaya Nujuh Jerami Lebarannya Warga Suku Lum Belinyu

Pemkab Bangka melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka dan Lembaga Adat Mapur menggelar Festival Mapur atau Nujuh Jerami di halaman

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemkab Bangka melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka dan Lembaga Adat Mapur menggelar Festival Mapur atau Nujuh Jerami di halaman Rumah Adat Masyarakat Dusun Air Abik Desa Gunung Muda Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka, Sabtu (24/04/2021) sore hingga malam.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Bangka Mulkan, Forkopimda Bangka, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bangka H Syarnubi, para pejabat dan Kepala OPD di lingkungan Pemkab Bangka, Direktur Perumda Tirta Bangka, para camat, kades, masyarakat serempat dan tamu undangan lainnya.

Kegiatan ritual Nujuh Jerami dipimpin Ketua Adat Suku Lum (Mapur), Geddoi dan pengurus Lembaga Adat Mapur, Johan.

Pengurus Lembaga Adat Mapur, Johan mengatakan kegiatan budaya Nujuh Jerami merupakan acara tahunan seperti halnya lebaran bagi masyarakat Suku Lum, baik yang ada di Dusun Air Abik Desa Gunung Muda, Dusun Bukit Tulang Desa Riding Panjang dan Dusun Pejem Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu.

"Nujuh Jerami maksudnya perayaan hari ke-7 usai pelaksanaan panen padi ladang masyarakat Suku Lum sebagai ungkapan syukur dan pengharapan atau permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keberkahan kepada padi hasil panen dengan harapan panen padi di tahun mendatang tetap melimpah ruah," kata Johan.

Dijelaskan Johan, ritual Nujuh Jerami dimulai oleh Ketua Adat Mapur melakukan taber (menghamburkan bonglai) mulai dari rumah tempat menyimpan padi, peralatan menumbuk padi atau lesung dan halaman sekitar untuk tempat menumbuk padi.

"Maksud taber ini untuk membangkitkan atau memberi semangat pada padi saat ditumbuk supaya lancar menjadi beras," jelas Johan.

Setelah itu Ketua Adat Mapur, Geddoi mengeluarkan lesung dan oenumbuk padi serta gabah padi yang akan ditumbuk oleh ibu-ibu (3 orang), setelah itu padi ditampi atau dipisahkan dari sekam (kulit padi) sehingga didapatkan beras merah, lalu ibu-ibu memilih kembali beras dan kulit sekam ya hingga bersih.

"Setelah didapatkan beras lalu dimasak atau ditanak menjadi nasi dan diberikan lauk pauk, seperti telur ayam, udang kecil atau uyep dan lainnya, kemudian Ketua Adat Mapur memberikan makan nasi dan lauk pauk tadi untuk pertama kali kepada semua peralatan yang digunakan untuk bertanam padi, seperti batu asah, parang, kapak, cangkul dan lainnya, juga sudut-sudut rumah dan sekitarnya," ungkap Johan.

Menurutnya hal ini dimaksudkan sebelum beras hasil panen dimakan orang maka kita lebih dahulu harus memberikan makan hasil panen ini kepada berje atau seluruh peralatan yang digunakan untuk bertani dan lingkungan sekitar lebih dulu, setelah itu baru beras hasil panen boleh dimakan orang.

Usai prosesi ritual Nujuh Jerami dilanjutkan hiburan pencak silat, kesenian/tarian campak dan lainnya.

Sementara di rumah-rumah masyarakat terlihat seperti suasana lebaran, karena setiap rumah menyediakan hidangan kue-kue seperti suasana lebaran. (Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved