Breaking News:

Proses Pengelolaan Kolang-Kaling, Makanan Khas Berbuka Puasa di Bulan Ramadan

Di bulan Ramadhan masyarakat banyak memanfaatkan buah beluluk menjadi Kolang-kaling, makanan yang umum untuk buka puasa.

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Di bulan Ramadhan masyarakat banyak memanfaatkan buah beluluk menjadi Kolang-kaling, makanan yang umum untuk buka puasa.

Contohnya di Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat Bangkapos.com menemukan ibu-ibu yang sedang mengelola atau memacuk (bahasa daerah) buah beluluk untuk menghasilkan kolang-Kaling.

Kelima ibu tersebut yakni Tina (39), Fatimah (29) Novia Sari (28), Maimunah (45) Meria (30) yang merupakan warga Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat. Mereka terlihat sibuk mulai dari meniriskan beluluk sampai mencungkil kolang Kaling yang ada di dalam buah itu.

Beratapkan terpal bewarna biru berukuran kurang lebih sekitar 3x3 di dekat lahan kebun warga di Pedesaan Air Duren sebagai tempat pengelolaan beluluk menjadi kolang-kaling oleh masyarakat setempat.

Satu di antaranya pemacuk Kolang-kaling, Tina menyebutkan proses awal sampai akhir pengelolaan kolang-kolang ini.

Menurutnya buah beluluk yang akan diambil dari batang kabun (aren) harus masih muda, karena kalau sudah tua tidak bisa lagi diproduksi hasilnya keras.

"Pertama ada orang yang ambil buah beluluk ini dari batangnya, setelah tandan beluluk yang telah diturunkan dari batang Kabung di bawa ke tempat pengelolaan, kemudian mulai motong beluluk dari tangkai dan buah beluluk direbus dalam drum besi yang sudah dibelah menggunakan tungku api selama kurang lebih 30 menit," ulas Tina kepada Bangkapos.com, Sabtu (24/4/2021).

Kata Tina, sejak pukul 05.30 WIB tadi mereka berlima memulai aktivitas dengan memisahkan beluluk dari tangkai dan merebusnya.

Setelah sudah 30 menit berlalu, beluluk yang direbus dicoba diiris atau dikupas dan diambil kolang-kaling di dalamnya apakah masih lengket atau tidak, jika masih lengket dilakukan perebusan kembali.

"Kalau sudah 30 menit dicoba dulu diiris dan dicungkil misal kolang-kalingnya masih lengket belum siap dan direbus lagi," jelas Tina.

Pantauan di lapangan, dua orang anak-anak juga ikut membantu mencungkil atau mengambil kolang-kaling dari buah beluluk yang sudah dikupas atau diiris.

Menurut Tina, saat sudah menjadi kolang-kaling atau makanan berbentuk lonjong dan berwana putih transparan itu dibersihkan, kemudian direndam supaya tidak merah. Kolang-kaling siap dijadikan untuk dalam berbagai bentuk olahan makanan bulan Ramadan.

Kolang-kaling yang mereka hasilkan itu dijual ke Pasar Pagi Kota Pangkalpinang dengan harga pasaran Rp15.000 per kilogram oleh bapak-bapak selaku Pengepul. (Bangkapos.com /Widodo)

Penulis: Widodo
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved