Breaking News:

Taman Bakau Dalam Kota, Salah Satu Kesiapan Wisata Alternatif Belitung

Kreativitas mulai terlihat dari beberapa kelompok masyarakat yang menunjukkan lokasi-lokasi alternatif selain 17 geosite yang telah ditetapkan.

Diskominfo Babel
Suak Parak Mangrove-Kelapak Munggong 

BANGKAPOS.COM, TANJUNG PANDAN - Tidak butuh lama untuk masyarakat Pulau Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memanfaatkan momentum wilayah mereka diakui oleh UNESCO.

Ide-ide kreatif mulai bermunculan tepat seperti keinginan Gubernur Babel, Erzaldi Rosman.

Kreativitas mulai terlihat dari beberapa kelompok masyarakat yang menunjukkan lokasi-lokasi alternatif selain 17 geosite yang telah ditetapkan sebagai Belitong UNESCO Global Geopark.

Sebagai contoh, Suak Parak Mangrove-Kelapak Munggong, pilihan wisata hutan mangrove yang sangat teduh karena rindangnya pohon bakau (mangrove), oksigen yang bersih dengan paket wisata yang unik. Taman bakau dalam kota yang terletak di Desa Air Saga, memiliki kelebihan berada tak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan. 

Bersama beberapa anggota pengelola hutan mangrove, motivasi menjaga hutan bakau ini agar tetap lestari dan menjadikannya salah satu destinasi bagi para wisata untuk menikmati alam bakaunya. Untuk menjaga kawasan ini, beranjak dari konsep kekhawatiran atas penambangan liar di hilir sungai, kawasan ini perlu dijaga bersama, agar kesiapan wisata terus disadari semua lapisan masyarakat. 

Menuju Destinasi Wisata Belitung Yang Unggul Berdaya Saing, begitu tagline kelompok pengelola dalam mengelola kawasan hutan mangrove ini. Dikelola menjadi tempat wisata oleh kelompok warga desa yang ingin melestarikan alam di desa mereka. Oleh pengelola, dibangun track agar wisatawan dapat berjalan hingga ke sungai yang membelah dua desa, Desa Air Saga dan Desa Batu Itam. 

Berjalan di jembatan pelangi sepanjang 215 meter, track ini membawa pengunjung menyusur hutan mangrove. Kawasan ini memiliki luas kurang lebih 50 hektar yang mulai dikelola. Tetapi setidaknya mencapai 100 hektar kawasan hutan bakau ini.

"Kaki jembatan dibangun menggunakan kayu gelam kayu yang dikenal sangat kuat di dalam air. Pembangunan track ini tidak mengganggu pertumbuhan tanaman bakau bahkan tidak dilakukan pemotongan apalagi penebangan," ungkap Herman, Ketua Pengelola menjelaskan bagaimana mereka membangun dan menjaga hutan bakau ini. 

Lebih menarik lagi, kawasan ini banyak terdapat Timong, sejenis kerang yang hidup di bakau
Potensi hasil alam seperti ini menjadi nilai tambah menurut para pengelola sehingga akan dikemas menjadi paket wisata. Atraksi nyarik Timong (mencari Timong) akan dijadikan paket wisata pada saat musim Timong tiba. Tidak mudah mengetahui keberadaan Timong, perlu ketelitian dan mengetahui ciri khusus.

"Genangan air di atas tanah bakau, jika terlihat gelembung seperti mata air, biasanya itu ciri khusus ada timong di dalamnya, kita bisa langsung mengambil kedalam tanah," ungkap salah seorang pengelola menjelaskan dan mempraktekkan, dan benar saja, saat mengangkat tangan, Timong sudah dalam genggamannya. 

Halaman
123
Penulis: Iklan Bangkapos
Editor: M Ismunadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved