Breaking News:

Tribunners

Akankah Ikan Tetap Jadi Penyebab Inflasi (Lagi) di Bangka Belitung?

Tingginya konsumsi ikan ini tak lepas dari budaya masyarakat yang mengolah ikan menjadi pempek, tekwan, lempah kuning, getas, kericu

Akankah Ikan Tetap Jadi Penyebab Inflasi (Lagi) di Bangka Belitung?
ISTIMEWA
M. Darwin Syah Putra, S.Pi, M.Si - Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Pangkalpinang

WILAYAH lautan Bangka Belitung itu 80 persen dibandingkan wilayah daratannya yang hanya 20 persen, oleh karena itu nama resminya adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Budaya masyarakatnya pun tak lepas dari budaya maritim, terutama dari sisi tingginya tingkat konsumsi ikan di Babel yang mencapai 60,54 kg/kapita/tahun bahkan di atas rata-rata tingkat konsumsi ikan nasional sebesar 56,39 kg/kapita/tahun (DKP Babel, 2020).

Tingginya konsumsi ikan ini tak lepas dari budaya masyarakat yang mengolah ikan menjadi pempek, tekwan, lempah kuning, getas, kericu, maupun otak otak. Apalagi menjelang Lebaran dan hari besar lainnya untuk disajikan sebagai menu wajib bagi keluarga dan tamu. Dan umumnya yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah jenis ikan tertentu seperti kerisi, ciu atau selar, tenggiri, parang-parang, dan kembung.

Di sisi lain, hampir setiap bulan jenis ikan ini menjadi salah satu penyebab inflasi, demikian juga deflasi, di Provinsi Bangka Belitung ini berdasarkan data BPS. Pada bulan Maret, tiga besar penyebab deflasi di Tanjungpandan adalah semuanya dari jenis ikan, yaitu ikan bulat, ikan selar, dan ikan tongkol. Adapun di Pangkalpinang, jenis ikan selar menjadi tiga besar andil deflasi.

Demikian pula di bulan Februari, jenis ikan juga menjadi tiga besar andil dalam deflasi (BPS Babel, 2021). Namun pada triwulan IV tahun 2020, komoditas ikan-ikanan (kembung, kerisi, tongkol) menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan nilai 1,07 persen dari inflasi Provinsi Bangka Belitung sebesar 4,31 persen. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan jenis ikan-ikan tersebut di pasaran akibat faktor cuaca dan tingginya curah hujan pada akhir tahun tersebut (Bank Indonesia Perwakilan Babel, 2021).

Selama tiga tahun terakhir ini, kelompok ikan-ikanan ini terus menjadi penyumbang inflasi. Mengapa ini bisa terjadi? Padahal lautnya 80 persen dari total wilayah. Ini tidak terlepas dari hukum supply and demand-nya yang belum terkelola dengan baik. Beberapa faktor yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya antara lain:

1. Informasi tata niaga ikan-ikan yang menjadi penyumbang inflasi ini harus diketahui sejak awal. Semestinya pemerintah daerah sudah harus memperlakukan tata niaga jenis komoditas ikan ini sama seperti kebutuhan pokok lainnya yang diawasi dan diatur tata niaganya karena jenis ikan-ikan ini termasuk dalam 11 bahan makanan pokok masyarakat sesuai dengan Perpres RI Nomor 58 tahun 2020.

Saat ini informasi pemasok jumlah ketersediaan stok ikan di pasar dan gudang, harga eceran tertinggi (HET) untuk ikan belum tersedia di Bangka Belitung. Saat menjelang hari-hari besar, biasanya pemerintah beserta perangkatnya fokus pada produk pertanian seperti beras, bawang, cabai, minyak goreng.

Namun untuk Babel, harus dipikirkan pula pasokan dan distribusi ikan-ikanan penyebab inflasi karena permintaannya yang tinggi. Untuk itu data hasil tangkap nelayan, jumlah ikan yang didaratkan di pelabuhan, dan jumlah stok ikan di pabrik pengolahan dan penyimpanan ikan harus tersedia agar dapat diprediksi berapa kebutuhan ikan-ikanan yang harus dipasok lagi.

2. Stok ikan harus tersedia sepanjang tahun di gudang beku (cold storage). Pasokan ikan ini tergantung kepada sistem penangkapan dan penyimpanannya. Jika hanya bergantung pada sistem penangkapan nelayan tradisional dan musim di Babel, maka stok tidak akan pernah cukup. Hal ini karena nelayan Babel didominasi oleh armada nelayan kecil dan ikan-ikan tersebut sifatnya musiman.

Untuk itu pemda harus menjadi penyangga (buffer). Jika pelaku usaha memiliki keterbatasan, mestinya pemda turun tangan dengan membeli atau membuka akses pasokan dari luar daerah dan menyimpannya di cold storage milik pemerintah sendiri maupun milik swasta. Dan itu harus didistribusikan ke seluruh wilayah yang membutuhkan.

Halaman
12
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved